BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
dunia akademik, istilah kritik sering sekali bersandingan dengan seni
baik itu seni sastra, seni rupa, seni pertunjukan dan seni film. Kritik
sastra khususnya berfungsi sebagai penilai atau judgement dalam
menentukan nilai (baik, cukup, kurang) sebuah karya sastra. Kritik
sastra juga memperbanyak pengetahuan dan pemahaman publik terhadap karya
sastra.
Bagi pembaca, kritik sastra berfungsi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
1. Membantu pembaca yang kesulitan memahami karya sastra.
2. Membantu pembaca memilih yang terbaik dari sejumlah alternatif bacaan.
3. Membantu pembaca menilai sebuah karya sastra.
Kecerdasan
emosional dan kecerdasan sosial sangat dibutuhkan untuk memahami sebuah
karya sastra. Dengan kedua hal itu, kita dapat menyadari bahwa hidup
itu sangatlah kompleks sehingga kita semakin menghargai terhadap
perbedaan.
Dengan
demikian, kritik sastra sangat diperlukan untuk membantu perkembangan
sastra itu sendiri. Namun, dalam dunia sastra terdapat banyak sekali
karya yang berbeda jenis ataupun bentuknya, seperti puisi, sajak,
cerpen, novel, drama, dan yang lain sebagainya membutuhkan media kritik
yang berbeda-beda. Tidak hanya di setiap jenis atau bentuk karya sastra,
dalam satu jenis karya sastra pun diperlukan beberapa metode kritik.
Ini dimaksudkan untuk mengetahui secara benar nilai sastra tersebut.
Di
dalam makalah ini, penulis akan memaparkan secara ringkas tentang
macam-macam metode kritk sastra. Seluruh metode ini sangat bermanfaat
bagi perkembangan sastra itu sendiri, untuk mengetahui mutu dan nilai
sastra, dan untuk mendorong semangat emosional sastrawan, dalam hal ini
pembuat karya sastra untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
B. Tujuan
Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini dimaksudkan sebagai salah satu
interpretasi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab dalam menerima
mata kuliah Naqd Adab II (Kritik Sastra). Selain itu, penjelasan ringkas
tentang macam-macam metode kritik sastra ini berusaha memberikan
dorongan kepada peminat dan penikmat sastra untuk mengetahui sebebarapa
banyak pendekatan yang dilakukan kritik untuk meningkatkan nilai sebuah
karya sastra.
Untuk
mengetahui nilai sebuah karya sastra dan pengakuan masyarakat peminat
sastra terhadap karya sastra itu, sangatlah diperlukan bebarapa metode
atau pendekatan kritik. Dalam karya sastra, sebagai contoh puisi, yang
memiliki bahasa fiksi yang sangat kuat sehingga tidak cukup dimengerti
dengan pemikiran logika yang sederhana. Dibutuhkan daya imajinasi atau
daya khayal untuk menembus bahasa yang disampaikan para pujangga dan
atau penyair dan akhirnya dapat menyentuh makna yang sesungguhnya
meskipun makna itu hanya bersifat subjektif.
BAB II
MACAM-MACAM METODE KRITIK SASTRA
Sebagaimana
uraian pada bab pertama, pakar kritik sastra membagi kritik sastara
menjadi lima metode pendekatan, dan metode pendekatan itu didasari oleh subjektivitas
kritikus sastra (minat, latar belakang, dan kepakaran), adapun
pendekatan kritik sastra yang lima itu yaitu, metode kritik sastra
formalis, metode kritik respon pembaca, metode kritik feminis, metode
kritik sosiologis, dan mentode kritik psikoanalisis.
A. Metode Pendekatan Kritik Sastra Formalis
Formalisme, atau yang oleh tokoh utamanya dinamakan “metode formal” (Formal’ njy metod)
adalah aliran kritik sastra yang timbul di Rusia sebagai reaksi
terhadap aliran positifisme abad ke-19 khususnya yang berhubungan erat
dengan puisi moderen Rusia yang beraliran futurisme.
Secara definitif kritik sastra Formalisme adala aliran
kritik sastra yang lebih mementingkan pola-pola bunyi dan bentuk formal
kata atau dengan kata lain, karya sebagai struktur telah menjadi
sasaran ilmu sastra. Sesuatu yang menarik dari hasil penelitian
mereka adalah perhatian terhadap apa yang dianggap khas dalam sebuah
karya sastra, yang mereka sebut literariness, dan usaha membebaskan ilmu sastra dari kekangan ilmu lain, misalnya psikologi, sejarah dan telaah kebudayaan.
Gerakan
formalisme ini juga dikembangkan dalam metode penilitan bahasa yang
dikemukakan oleh Saussure. Para formalis menampilkan percobaan
sistematis untuk meletakkan studi sastra secara khusus. Bahasa puisi
(tertulis) merupakan objek utama dari pendekatan kritik sastra formalis.
Puisi dijadikan sebagai bentuk bahasa yang khas melalui penyimpangan
dan distorsi bahasa sehari-hari (defamiliarisasi).
Gerakan
formalis, memang tidak dapat disangkal, secara tidak langsung telah
menorehkan garis demarkasi terhadap bahasa prosa yang sebenarnya juga
termasuk dalam studi sastra. Bagi para Formalis, prosa menjadi the other
sehingga pengertian mengenai fiksi yang sesungguhnya terpusat dalam
istilah defamiliarisasi atas bahasa sehari-hari. Hal demikian dapat
dipahami karena sejak timbulnya pemberontakan kaum Bolsevik di Rusia,
bahasa yang terdapat dalam prosa menjadi stimulus dan kendaraan
propaganda yang paling efektif untuk membuat massa bergerak sesuai
kebijakan yang telah ditentukan. Bagi para Formalis, bahasa demikian
jelas menjauhkan orang dari imajinasi dan penafsiran yang terus terbuka.
Dari
sejarah perkembangan bahasa tulis, keberadaan bahasa fiksi (yang
tertulis) sudah teruji. Inilah yang menjadi salah satu pangkal pemikiran
para poststrukturalis seperti Barthes atau Derrida untuk memahami
bahasa tulis sebagai sebuah teks yang berjejak bukan hanya dari sisi
kontinuitasnya dengan beberapa momen, tetapi juga bahkan dari sisi
diskontinuitasnya. Hal ini berarti bahwa bahasa tulis pun tidak selalu
merepresentasikan sebuah fakta yang juga terbentuk dalam bahasa
sehari-hari berdasarkan konvensi atau kebiasaan.
B. Metode Pendekatan Kritik Sastra Respon Pembaca
Metode
pendekatan ini dipusatkan kepada respon dan timbal balik dari pembaca,
dalam hal ini peminat dan penikmat karya sastra. Dilihat dari karakter
pembaca merespon sebuah karya sastra, maka mereka dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu pembaca gelisah dan pembaca pasrah.
- Pembaca Gelisah
Pembaca gelisah adalah publik pembaca sebagai penikmat karya sastra apa adanya dan tak mau ambil pusing tentang sastra.
Mereka pasrah dininabobokan pengarang, sang diktator. Yang disebut
terakhir adalah penikmat sekaligus pemikir serius. Fungsinya mulia,
yakni membisiki pekarya sastra agar karyanya lebih berbobot sehingga
lebih memukau pembaca. Kritik sastra adalah studi, diskusi, evaluasi,
dan interpretasi atas karya sastra. Kritik sastra lantang bicara,
sedangkan puisi, cerpen, dan novel seperti halnya arca diam membisu.
Kritik sastra mengartikulasikan kebisuan ini.
Bagi
peminat sastra, kritik sastra membantu mereka membangun interpretasi
sendiri terhadap karya dengan bertambahnya sudut pandang. Agar memiliki
satu interpretasi yang mantap, mereka memerlukan berbagai interpretasi.
Sebuah karya mungkin dikritik berkali-kali. Beberapa kritik mungkin
lebih mencerdaskan dari kritik lainnya. Maka lahirlah kritik atas
kritik. Lagi-lagi di sini bermain kuasa subjektivitas. Subjektivitas
pembaca menentukan penilaian atas sebuah kritik. Kritik itu sendiri
refleksi subjektivitas kritikus terhadap karya. Dan karya yang dikritik
pun cerminan subjektivitas penulisnya.
- Pembaca Pasrah
Membangun
keinginan seseoroang agar tertarik pada sastra adalah panggilan jiwa
untuk membaca sebagai pemuas dahaga psikologis. Artinya, pengajaran
sastra di sekolah mesti berbeda dari perkuliahan sastra di universitas.
Tidaklah tepat siswa ditakut-takuti oleh monster berupa teori-teori dan
istilah-istilah teknis sastra yang dihafal dan diuji benar-salah.
Pengajaran sastra yang berpihak pada estetika (bukannya efferent) adalah medium untuk menanamkan demokrasi lewat interpretasi liar dan apresiasi jujur.
Sastra
berhubungan dengan pengarang, karya sastra, dan pembaca. Ketiga hal ini
tidak dapat dipisahkan karena masing-masing memiliki peran dan fungsi
yang berbeda. Tanpa pengarang tidak akan ada karya sastra, dan tanpa
pembaca karya sastra tidak ada artinya. Pembaca dalam memahami dan
memaknai suatu karya sastra akan berbeda antara yang satu dengan yang
lainnya. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan, pengetahuan,
pengalaman, dan kemampuan pembaca yang berbeda. Segers (dalam Pradopo,
1995:208) mengatakan cakrawala harapan pembaca ditentukan oleh tiga
kriteria, yaitu (1) norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah
dibaca oleh pembaca, (2) pengetahuan dan pengalaman atas semua teks
yang telah dibaca sebelumnya, dan (3) pertentangan antara fiksi dan
kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk memahami, baik dalam horizon
sempit dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon luas dari
pengetahuannya tentang kehidupan
Pembaca sebagai pemberi makna terhadap suatu karya sastra dapat dibagi atas beberapa tipe, yaitu the real reader (pembaca yang sebenarnya). Pembaca jenis ini dapat diketahui melalui reaksi-reaksi yang terdokumentasi. Tipe kedua disebut hypothetical reader
(pembaca hipotesis). Pembaca ini berada di atas semua kemungkinan
aktualisasi teks yang mungkin telah diperhitungkan. Pembaca tipe ini
dapat dibagi menjadi dua, yaitu contemporary reader (pembaca kontemporer atau pembaca masa kini) dan ideal reader (pembaca idial).
1. The Real Rreader (Pembaca yang Sebenarnya)
Pembaca tipe ini muncul dalam menganalisis pengkajian sejarah tanggapan-tanggapan pembaca,
yakni ketika perhatian studi sastra dipusatkan pada cara karya sastra
diterima oleh masyarakat yang membaca secara khusus.
Penilaian-penilainan apapun mengenai karya sastra juga akan mencerminkan
berbagai sikap dan norma pembaca sehingga karya sastra dianggap cermin
kode kultural yang mengkondisikan penilainan-penilaian tersebut.
Rekonstruksi
terhadap pembaca yang sebenarnya ini tentu saja tergantung pada
kelangsungan (hidup) dokumen-dokumen masa kini. Sebagai konsekwensinya,
rekonstruksi tersebut sering sangat tergantung pada karya itu sendiri.
Yang menjadi masalah adalah apakah suatu rekonstruksi berkaitan dengan
pembaca sebenarnya pada masa itu atau secara sederhana mengedepankan
peran pembaca dengan berasumsi apa yang diharapkan pengarang.
2. Hypothetical Reader (Pembaca Hipotesis)
a. Contemporary Reader (Pembaca Kontemporer)
Pembaca kontemporer memiliki tiga tipe, yaitu ril,
historis, dan hipotesis. Yang ril dan hipotesis tergambar dari
keberadaan dokumen-dokumen, sedangkan yang hipotesis dari pengetahuan
sosial, historis suatu waktu, dan peran pembaca yang tersimpan dalam
teks.
b. Ideal Reader (Pembaca Idial)
Sulit
menunjukkan secara tepat dari dan di mana pembaca idial tergambar.
Walaupun banyak yang dapat dikatakan untuk mengklaim bahwa pembaca idial
cenderung muncul dari otak filolog atau pengkritik sendiri. Meskipun
penilaian pengkritik berhadapan dengannya, ia tidak lebih dari seorang
pembaca terpelajar.
Seorang
pembaca idial harus memiliki sebuah kode yang identik dengan kode
pengarang. Para pengarang bagaimanapun secara umum mengkodekan kembali
kode-kode umum (yang berlaku) di dalam karya sastra mereka dan dengan
demikian, pembaca idial akan dapat memperhatikan berdasarkan proses
tersebut. Jika hal ini terjadi, komunikasi akan menjadi sangat
berlebihan karena seseorang hanya mengkomunikasikan yang belum dibagi
oleh pengirim dan penerima.
Pikiran
bahwa pengarang sendiri menjadi pembaca idialnya sendiri seringkali
diruntuhkan oleh pernyataan-pernyataan para penulis yang mereka buat
atas karya-karya mereka sendiri. Secara umum, sebagai pembaca, mereka
sangat sulit membuat pernyatan apa pun tentang dampak penggunaan
teks-teks mereka sendiri. Mereka lebih suka berbicara dalam bahasa
petunjuk tentang maksud-maksud mereka, strategi-strategi mereka,
konstruksi-konstruksi mereka, disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang
juga akan menjadi valid bagi masyarakat yang mereka arahkan.
Dalam perkembangan sekarang ini kritik sastra membagi tipe-tipe pembaca menjadi empat, yakni (1) superreader (pembaca pakar); (2) informed reader (pembaca serba tahu); (3) intended reader (pembaca harapan); (4) Implied Reader (pembaca terimplikasi). Setiap tipe pembaca membawa terminologi khusus.
1. Superreader (Pembaca Pakar)
Tipe
pembaca ini selalu muncul bersama-sama isyarat dalam teks dan dengan
demikian terbentuk melalui reaksi-reaksi umum mereka atas keberadaan
satu fakta stilistik. Superreader mengobjektivasikan gaya atau
fakta stilistik sebagai sebuah unsur komunikasi tambahan terhadap unsur
utama bahasa. Pembaca ini memberikan bukti bahwa fakta stilistik berdiri
di luar konteks sehingga mengarah kekepadatan dalam pesan yang
terkodekan yang diterangkan oleh kontras intertekstual yang ditunjukkan
oleh superreader.
2. Informed Reader (Pembaca Serba Tahu)
Informed reader
adalah (a) pembicara yang berkompeten terhadap bahasa di luar teks; (b)
seseorang yang memiliki pengetahuan yang matang yang dibawa pendengar
yang bertugas memahaminya; (c) seseorang yang memiliki kompetensi
kesastraan.
3. Intended Reader (Pembaca Harapan)
Pembaca
tipe ini merekonstruksikan pikiran pembaca yang ada dalam pikiran
pengarang. Pembaca tipe ini bersifat fiktif. Dengan ciri fiktif ini
memungkinkannya merekonstruksikan masyarakat yang ingin dituju oleh
pengarang. Pembaca berusaha menandai posisi dan sikap tertentu dalam
teks, tetapi belum identik dengan peran pembaca.
4. Implied Reader (Pembaca Terimplikasi)
Pembaca
tipe ini memiliki konsep yang benar-benar tumbuh dari srtuktur teks dan
merupakan sebuah konstruksi serta tidak dapat diidentifikasi dengan
pembaca nyata. Pembaca merupakan suatu struktur tekstual yang
mengantisipasi kehadiran seorang penerima tanpa perlu menentukan siapa
dia. Pembaca berusaha memahami teks dari struktur-struktur teks yang
ada. Dengan demikian, tidak menjadi masalah siapa pembaca itu, tetapi
yang jelas pembaca tipe ini diberi tawaran sebuah peran utama untuk
dimainkan, yakni peran pembaca sebagai sebuah struktur tekstual dan
peran pembaca sebagai act (tindakan/aturan) yang terstruktur.
C. Metode Pendekatan Kritik Sastra Feminis
Abad
20, seperti pernah dinyatakan Noami Wolf, seorang feminis dari Amerika,
sebagai era baru bagi perempuan, atau ia menyebutnya era gegar gender,
era kebangkitan perempuan. Gaung kebangkitan itu memang terus berkembang
hingga sekarang. Di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit
mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi
dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami
subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tsb. di berbagai
bidang. Termasuk di bidang sastra.
Kritik sastra feminis secara teknis menerapkan
berbagai pendekatan yang ada dalam kritik sastra, namun ia melakukan
reinterpretasi global terhadap semua pendekatan itu. Kritik yang
mula-mula berkembang di Prancis (Eropa), Amerika, dan Australia ini
merupakan sebuah pendirian yang revolusioner yang memasukkan pandangan
dan kesadaran feminisme (pandangan yang mempertanyakan dan menggugat
ketidakadilan yang (terutama) dialami perempuan yang diakibatkan sistem
patriarkhi) di dalam kajian-kajian kesusastraan.
Dengan
kritik itu diharapkan penyusunan sejarah, penilaian terhadap teks-teks
yang ditulis perempuan menjadi lebih adil dan proporsional. Oleh karena
itu, seperti dijelaskan Djajanegara (2000), terdapat dua fokus di dalam
kritik ini. Fokus pertama adalah pengkajian ulang sejarah kesusastraan,
termasuk mengkaji lagi kanon-kanon yang sudah lama diterima dan
dipelajari dari generasi ke generasi dengan tinjauan feminis dan
menggali kembali karya-karya dan penulis-penulis dari kalangan perempuan
yang ter(di)pendam selama ini.
Fokus kedua, mengkaji
kembali teori-teori dan pendekatan tentang sastra dan karya sastra yang
ada selama ini dan tentang watak serta pengalaman manusia yang ditulis
dan dijelaskan dalam sastra. Selama ini para feminis melihat ada
pengabaian terhadap pengalaman-pengalaman perempuan. Di sini, kritik
sastra feminis menyediakan konteks bagi penulis perempuan yang mendukung
mereka agar mampu mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pikiran yang
selama ini diredam.
Akan
tetapi, perlu dicatat, seperti gerakan/ideologi feminis itu sendiri
yang tidak monolitik (terdiri atas berbagai aliran), kritik sastra
feminis yang memang tumbuh dari gerakan ini, juga tidak monolitik.
Feminisme terdiri atas aliran-aliran liberalis, marxis, sosialis,
eksistensialis, psikoanalitik, radikal, postmodern, dll. yang
masing-masing memiliki perbedaan pandangan/penekanan dan tak jarang
bertentangan. Ada feminisme yang sangat maskulin, ada yang
anti-maskulin, ada pula yang ingin menjadi partner dengan maskulinitas.
Hal
ini berpengaruh pula di dalam cara memandang, menilai, dan menetapkan
kriteria-kriteria kesusastraan yang sesuai dengan pandangan feminisme.
Tokoh-tokoh seperti Helena Cixous, Virginia Wolf, Kate Millet, dll. yang
merupakan kritikus sastra feminis berasal dari aliran yang berbeda.
Cixous misalnya, penganut feminisme postmodern, Wolf adalah seorang
feminis marxis, dan Millet seorang feminis radikal. Keberagaman itu
dapat saling mengisi, tapi dapat bertentangan dalam pengejawantahannya
dalam kritik sastra feminis.
Berdasarkan keberagaman ini, dalam kritik sastra feminis ditemukan kritik gynocritics, kritik sastra feminis ideologis, marxis, psikoanalitik, dll. Gynocritics
melakukan kajian terhadap sejarah karya sastra perempuan, gaya
penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan wanita yang lebih menekanan
perbedaannya dengan tulisan laki-laki. kritik sastra feminis Ideologis
memusatkan perhatian pada cara menafsirkan teks yang melibatkan pembaca
perempuan. Yang dikaji adalah citra/stereotip perempuan dan meneliti
kesalahpahaman mengenai perempuan. kritik sastra feminis sosialis/marxis
melihat tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastra dari sudut kelas-kelas
masyarakat, dan kritik sastra feminis psikoanalitik menolak teori
Sigmund Freud dalam pengkajian karya sastra. Masih banyak ragam lainnya,
seperti kritik sastra feminis lesbian, dan ras (etnik).
Feminisme
dan kritik sastra feminis membawa angin segar dalam perkembangan
kesusastraan. Di berbagai wilayah, berkat usaha para kritikus feminis,
para perempuan dan karyanya mulai dipertimbangkan dengan adil. Banyak
karya perempuan yang awalnya oleh para kritikus tradisional dianggap
bukan kanon, setelah melalui pengkajian dari sudut feminisme diterima
masyarakat sebagai kanon. Karya Mary Ann Cross (George Eliot) di Inggris
adalah salah satu contohnya.
Angin segar itu misalnya terasa dari kajian-kajian gynocritics
dari berberapa kritikus sastra, antara lain oleh Korrie Layun Rampan
berupa penyusunan antologi dan pengkajian karya-karya khusus perempuan
yang sangat membantu penyusunan ulang sejarah kesusastraan dalam
hubungannya dengan keberadaan perempuan, peningkatan pemberian
kesempatan terhadap perempuan dalam kegiatan-kegiatan sastra (meski
belum imbang antara laki-laki dan perempuan), dan kritik yang lebih
objektif dalam melihat keunggulan karya perempuan sehingga saat ini
karya perempuan diperhitungkan dan menempati kanon-kanon sastra.
Di
sini pun perlu dipertanyakan mengapa kritik ini sangat jarang
dipergunakan untuk menganalisis karya laki-laki. Padahal menurut
sejarahnya, kritik ini juga diterapkan pada karya laki-laki untuk
melihat bagaimana laki-laki mencitrakan perempuan dalam cerita-cerita
rekaannya. Di Indonesia, hingga saat ini, belum ada penelitian mendalam
terhadap penggambaran citra-citra perempuan dalam karya laki-laki. Yang
ada selama ini baru sebatas dugaan. Kajian mendalam ke arah ini
tampaknya akan bermanfaat untuk membantu penyadaran masyarakat terhadap
kesetaraan dan keadilan gender. Semoga kritik ini tidak hanya digunakan
sebagai mode, tapi sebagai sebuah kesadaran.
D. Metode Pendekatan Kritik Sastra Sosiologis
Pendekatan sosiologis terhadap karya sastra bertolak dari gagasan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan masarakat (sosial). Karya sastra mendapat pengaruh dari masyarakat dan memberi pengaruh terhadap masyarakat.
a. Konsep dan kriteria
Seperti
pendekatan kritik sastra yang lainnya, pendekatan sosiologis juga
mempersoalkan hal-hal yang ada diluar tubuh karya sastra seperti latar
belakang pengarang, pengaruh sastra terhadap masyarakat, respon pembaca,
dan lain-lain. Adapun konsep dan kriteria pendekatan ini adalh senagai
berikut:
1. Dalam sejarah awal kemunculan pendekatan sosiologis memandang karya sastra sebagai cermin sejarah. Semakin banyak gejolak sosial dan dialektioka di tengah masyarakat, sastra semakin meningkat sebagai alat perekam gejala sosial tersebut.
2. Karya
sastra merupakan medium palin epektif untuk menggerakam masyarakat
dalam mewujudkan keinginan mereka. Pendekata sosiologis ini juga
dinamakan realisme sosialis.
3. Analisis sastra lebih luas tertuju pada pengarang yang mampu merekm kehidupan suatu jaman dalam karyanya.
4. Pendekatan
sosiologis juga bermanpaat untuk mengkaji latar belakang penulis,
palaspah yang dianut, idiologi, pendidikan, dan visi pengarang.
Pendekatan ini juga menganalisis masarakat yang digambarkan dalam karya
sastra dan membandingkannya dengan masyarakat diluar karya sastra.
b. Kekuatan dan Kelemahan
Pendekatan
sosiologis memandang karya sastra sebagai produk budaya yang sangat
diperlukan masyarakat. Sastra merupakam media komunikasi antara
masyarakat. Kelemahan pendekatan ini antara lain : (1) Munculnya konsep
sastra untuk masyarakat dan masyarakat untuk sastra. (2) Sering
dijadikan sebagai alat untuk melakukan proters sosial (3) Pendekatan ini
sukar dipahami apabila tidak didukung oleh ilmu sosiologi dan jiwa
sosial.
E. Metode Pendekatan Pisikologis
Pendekatan
pisikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya
sastra selalu membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Manusia
senantiasa memperhatikan prilaku yang beragam, sehingga bila kita ingin
memahami manusia lebih dalam maka kita membutuhkan Pisikologi,
lebih-lebih di zaman yang serba berkaitan dengan ilmu tehnologi yang
canggih ini, manusia memiliki konflik kejiwaan yang yang bermula dari
sikap tertentu yang akhirnya berpengaruh dalam kehidupannya.
Penjelajahan
ke dalam batin atau kejiwaan untuk menetahui lebih dalam tentang seluk
beluk manusia yang unik ini merupakan sesuatu yang merangsang. Banyak
penulis yang berusaha mendalami masalah pisikologi seiring dengan itu
banyak penelaah atau peneliti sastra yang mencoba memahami
karya sastra dengan bantuan pisikologi. Memang benar setiap
permasalahan kehidupan manusia dapat dikembalikan kedalam teori-teori
pisikologis.
Berangkat dari pemikiran semacam itu muncullah pendekatan
Pisikologis dalam telaah atau penelitian sastra. Para pakar pisikologis
terkemuka seperti Jung, Adler, freud, dan Brill memberikan infirasi
yang cukup banyak tentang pemecahan masalah misrteri
tingkah laku manusia melalui teori-teori pisikologi. Namun hanya Freud
yang secara langsung berbicara tentang proses penciptaan seni sebagai
akibat dari tekanan dan tinbunan masalah dibawah alam sadar yang
kemudian disumlimasikan kedalam bentuk penciptaan karya seni pisikologi
yang di bawa oleh Freud ini disebut pisikologianalisis yang bayank diterapkan dalam penelitian sastra lewat bpendekatan pisikologi.
a. Konsepsi dan Kriteria Pisikoanalisis
Kritik psikoanalisis dilakukan berdasarkan psikologi yang ada dalam diri manusia. Dalam dirinya terdapat id, ego, dan super-ego
yang menyebabkan manusia selalu berada dalam keadaan berperang dalam
dirinya apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiganya. Akan tetapi
ketiganya bekerjasama seimbang dan melahirkan watak yang wajar. Dalam
metode pendekatan psikoanalisis kajian sastra yang diambil hanya
bagian-bagian yang sesuai dengan teori psikoanalasis.
Berikut ini beberapa konsepsi dasar kriteria yang digunakan dalam metode pendekatan psikoanalisis:
1. Karya sastra merupakan produk dari jiwa dan pemikiran pengarang yang berada dalam setengah sadar atau subconcius setelah mendapat bentuk yang jelas secara sadar atau concious dalam bentuk penciptaan karya sastra.
2. Kualitas
karya sastra ditentukan oleh bentuk proses penciptaan dari tingkat
pertama, yaitu keadaan setengah sadar di bawah alam sadar kepada tingkat
kedua, yaitu dibawah keadaan sadar.
3. Menurut
metode psikoanalisis, karya yang berkualitas adalah karya sastra yang
mampu menyajikan simbol, wawasan, kepercayaan, tradisi, moral, budaya
dan lain-lain.
4. Karya sastra menurut metode psikoanalisis adalah karya sastra yang mampu menggambarkan kekalutan dan kekacauan batin manusia.
5. Kebebasan
sastrawan atau pembuat karya sastra sangat dihargai. Dia memiliki
kebebasan yang istimewa, yaitu berupaya mengkongkritkan gejolak batin
yang ada dalam dirinya.
b. Metode atau Langkah
Freud
mengatakan dalam teori psikoanalisisnya bahwa dalam mengarang,
sastrawan diserang oleh penyakit jiwa yang disebut ‘neurosis’ bahkan
sampai ‘psikosis’ seperti sakit mental. Berikut ini digambarkan metode
atau langkah kerja pendekatan atau metode psikologis.
1. Metode
psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra baik
segi intrinsik maupun segi ekstrinsik. Namun metode ini lebih ditekankan
pada segi intrinsik sesuai dengan penokohan atau perwatakan.
2. Segi
ekstrinsik perlu dibahas yang menyangkut dengan permasalah jiwanya.
Dengan memahami segi kejiwaan pengarang, akan sangat membantu dalam
karakter cerita atau karya sastra yang ditulisnya.
3. Di samping menganalisis perwatakan dalam segi psikologis, mengurai tentang tema karya sastra itu sendiri juga perlu dilakukan.
4. Analisis
dapat diteruskan kepada analisis kesan pembaca, karena karya sastra
sangat berpengaruh dalam respon pembaca yang menimbulkan kesan pada
pembaca dan berdampak didaktis bagi dirinya.
c. Kekuatan dan Kelemahan Metode Psikoanalisis.
Melalui
pendekatan psikologi, dapat menimbulkan kesan bahwa pendekatan ini
menjurus pada pemanfaatan ilmu jiwa yang rumit, abstrak dan kompleks.
Sungguh meskipun begitu, metode psikoanalisis ini memiliki kekuatan,
yaitu:
1. Sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan.
2. Metode ini memberi timbal balik kepada penulis atau sastrawan tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya.
3. Sangat
membantu dalam menganalisis karya sastra surcalis, abstrak, atau absurd
dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya sastra semacam itu.
Metode
ini juga memiliki kelemahan dalam menerapkannya dalam kritik sastra.
Kelemahan tersebut dapat digarisbesarkan sebagai berikut:
1. Mengharuskan kritikus untuk mengetahui ilmu kejiwaan.
2. Banyak hal yang abstrak yang sukar dipecahkan tentang perilaku dan motif tindakan.
3. Sukar diketahui kaitan tindakan yang satu dengan yang lain, karena dalam cerita kadang tokoh itu ‘mati’.
4. Tidak mudah mengetahui apakah pengalaman yang menimpa tokoh itu merupakan pengalaman pengarang langsung atau bukan.
5. Metode
ini lebih mudah jika seorang pengarang menulis jujur sesuai dengan
penglaman hidup dan karakternya, karena jika pengarang tidak jujur dalam
membuat karyanya, maka kajian tentang riwayat hidup pengarang pun tidak
ada gunanya.
6. Sampai
saat ini teori yang dikemukakan Freud belum dapat dibuktikan secara
saintifik dan masih banyak hal yang bersifat metafor dan merupakan
misteri.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kritik
sastra sangat bermanfaat dalam dunia sastra. Kritik sastra menjadi
mediator komunikasi dan apresisasi antara pengarang dan pembaca. Dari
semua itu, landasan yang diambil pun kemudian menjadi sebuah penentu,
dimana dalam mencari nilai karya sastra haruslah ada satu alat yang
secara menentu dan mendetail menguak semua unsur yang ada di dalam karya
sastra dan unsur yang ada di luar karya sastra.
Para
ahli kritik membagi beberapa metode atau pendekatan kritik sastra
menjadi lima, yaitu pendekatan formalis, respon pembaca, feminis,
sosiologis, dan psikoanalisis.
B. Saran
Demikianlah
makalah ini diususn dengan kemampuan yang terbatas. Namun tak ada
salahnya jika kita mempelajari teori pendekatan ini lebih mendalam dan
melakukan uji coba terhadap karya sastra di sekeliling kita.
DAFTAR ISI
Atar Semi, M. Pror. Drs. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Penerbit ANGKASA Bandung.
Fokkema, D.W. dan Elrud Kunne. 1998. Teori Sastra Abad Ke-20. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustakan Utama.
Hardiyana, Andre. 1994. Kritk Sastra; Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Purtaka Utama.
Yusuf, Suhendra. Drs. MA. 1995. Leksikon Sastra. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju.