Selasa, 30 September 2014

Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 1)

Menulis cerpen hanya dalam waktu sejam? Mungkinkah? Saya menjawabnya mungkin! Saya sering melakukannya karena semenjak masih di sekolah saya sering jualan cerpen. Saat masih bersekolah, Mading (Majalah Dinding) dan majalah sekolah adalah hal terkeren yang bisa dilakukan murid-murid sekolah. Entah untuk alasan nampang, pengin ngelaba secara literal atau sekedar dapat nilai pelajaran Bahasa Indonesia. Bagi saya adalah ajang cari duit sebab kebanyakan dari Mading tersebut berisi cerpen. Karena mereka sering tak punya waktu menulis, biasanya mereka beli dari saya..he..he..he..he.
Lantas bagaimana cara membuat cerpen dalam sejam? Mari kita bicara secara logika saja. Jika anda ingin memasak makanan, anda tentu harus mempunyai bahan. Apa yang anda masak kalau bahan tidak ada. Kedua, anda harus mempunyai cara memasak bahan tadi. Jika anda ingin memasak sup, anda tahu bagaimana membuat kaldu. Bahan-bahan apa saja yang dimasukkan pertama kali. Dan kapan saatnya memberikan bumbu serta kapan menyatakan selesai memasak. Di dalam penulisan fiksi, point-point tadi berlaku.
Sebagai bahan pertama, anda tidak bisa tidak harus mempunyai bank ide. Bank ide adalah kumpulan inspirasi-inspirasi yang muncul dimana saja, kapan saja tanpa permisi. Karena tanpa permisi, maka anda harus mencatatnya saat itu juga. Dan karena anda harus mencatatnya saat itu juga, maka kemana-mana biasakanlah membawa notes dan bolpoint. Kenapa harus bank ide? Sebab banyak waktu dipakai hanya untuk memikirkan mau menulis apa, ya? Jika anda sudah mempunyai Bank ide, maka anda tinggal mencomot salah satunya sebagai roh cerpen anda manakala dibutuhkan.
Berikut ini adalah beberapa contoh tulisan ide saya.
  1. Seorang cowok mencintai cewek yang frigid karena perlakuan tidak senonoh pamannya.
  2. Seorang cewek mencintai seorang cowok yang ternyata waria
  3. Seorang adik cemburu karena kakaknya tidak perhatian terhadapnya dan mulai bermain sendirian di rumah kosong sebelah rumah sehingga bertemu teman bermain dalam wujud arwah tetapi dia tidak tahu kalau temannya itu arwah (cerita misteri)
Bahan kedua adalah banyak-banyaklah membaca cerpen dan novel. Kenapa? Sebab kegiatan ini akan meningkatkan reflek tulisan anda. Mengenai reflek, anda dapat membandingkannya dengan orang berlatih beladiri. Kenapa mereka melatih satu pukulan selama berjam-jam. Sebab dengan membiasakan pukulan tersebut, suatu ketika akan timbul kebiasan, dan kebiasaan akan menghasilkan reflek. Dengan adanya reflek ini, anda tidak perlu memikirkan harus memukul dengan cara apa ketika menghadapi lawan. Reflek ini yang membuat anda secara otomatis melakukan pukulan tertentu.
Bahan ketiga adalah membaca/mempelajari non-fiksi. Pelajari bentuk-bentuk rumah di sekitar anda atau lewat majalah arsitektur. Amati bagaimana cara wanita memakai make-up. Cari tahu jenis-jenis sepatu, jenis-jenis kain pakaian, cara bicara orang pada daerah tertentu. Baik juga untuk mempelajari jenis-jenis tanaman-tanaman, bunga, jenis mobil, sepeda motor dan sebagainya. Non-fiksi ini akan membantu anda mendeskripsikan setting/background cerita dan pernak-pernik tokoh anda.
Setelah bahan, mari kita membicarakan masalah cara memasak. Tulislah pada bagian yang sangat menarik bagi anda. Jika bagian pertama tidak menarik, anda tidak perlu memaksakan diri menulis pada bagian pertama. Lebih baik selesai menulis bagian lain daripada menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan bagian pertama. Saya pribadi lebih suka menulis pada bagian konflik, kemudian bagian penyelesaian, baru pada bagian permulaan.
MulaKonflikAkhir
Gambar 1
Permulaan adalah penting. Kata pertama, kalimat pertama, paragrap pertama adalah neraka dalam penulisan fiksi. Pada bagian ini pembaca memutuskan apakah suka/meneruskan membaca cerita kita. Dengan demikian bab pertama perlu mendapatkan perhatian serius dari kita. Saya pribadi mempunyai beberapa pilihan untuk menulis paragrap pertama.
  1. Memulai dengan bagian paling menarik pada cerita
  2. Memulai dengan konflik
  3. Membuat pembaca bertanya-tanya
Berkenaan dengan permulaan cerita. Saya menyarankan beberapa hal:
  1. Perkenalkan setting cerita.
    Apakah terjadi di sekolah? Di rumah tua? Di Indonesia? Di Korea? Pembaca pasti ingin segera tahu setting agar bisa segera masuk ke cerita.
  2. Perkenalkan tokoh utama secepat mungkin.
    Tokoh utama adalah tempat hati pembaca meletakkan emosi mereka. Semakin cepat anda mengenalkan tokoh, semakin mudah anda mengarahkan emosi mereka di kalimat-kalimat selanjutnya.
  3. Pembaca ingin segera tahu apakah cerita ini cocok untuk mereka. Karena hal ini anda harus sudah memberi mereka rambu. Beritahukan kepada mereka apakah cerita anda tentang remaja yang bercinta? Horor? Fantasi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar