Oleh Naning Pranoto
Writing is adventure
(Ernest Hemingway)
Pengantar
Writing is adventure – menulis adalah petualangan, demikian kata
Ernest Hemingway, sastrawan besar AS yang karya-karyanya ditandai
dengan jiwa-jiwa dan nafas petualangan. Pendapat ini didukung oleh
para pengagumnya, khususnya para sastrawan Amerika Latin (misalnya
Pablo Neruda dan Gabriel Gracia Marquesz) dan sastrawati Afrika Selatan
Nadine Gordimer serta Milan Kundera, sastrawan Cheko. Saya sebagai
pengagum Hemingway, juga merasakan hal tersebut: writing is adventure.
Yang dimaksud dengan ‘petulangan’ di sini adalah bukan petulangan
secara raga, melainkan paduan dari kekayaan batin dan intelektual
(materi dasar/bahan tulisan), imajinasi (kreativitas dan pengembangan)
serta kosa kata (penguasaan bahasa). Paduan itu dirangkai menjadi
suatu tulisan melalui suatu proses yang disebut proses kreatif.
Tulisan pendek berikut ini menguraikan sekilas mengenai proses
kreatif untuk menulis suatu tulisan dan cara-cara menulis agar mudah
dipahami pembacanya.
Proses Kreatif dan ‘Lapar’ Menulis
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘kreatif’
diartikan: (1) memiliki daya cipta; (2) memiliki kemampuan untuk
menciptakan. Jadi, proses kreatif adalah proses mencipta sesuatu dan
konteks dalam tulisan ini adalah mencipta tulisan atau menulis, baik itu
tulisan yang bersifat fiksi maupun non-fiksi. Mereka yang menulis
fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non-fiksi disebut
penulis. Seorang penulis bisa menjadi pengarang, tetapi pengarang
pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatnnya, menjadi penulis
diperlukan topangan referensi yang lebih luas dan mendalam, apalagi
bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis/ilmiah.
Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah
dibandingkan menjadi penulis. Sebab, baik untuk menjadi pengarang
maupun penulis, keduanya memerlukan modal utama yaitu memiliki
dorongan yang kuat untuk menulis (the strong will to write) atau
dalam jargon creative writing disebut ‘lapar menulis’ (tidak sekedar
haus). Dapat dibayangkan, bagaimana jika kita lapar (kelaparan) harus
makan. Tentunya, jalan apa pun ditempuh, bukan? Goal-nya adalah
makan, harus makan. Dalam kasus ‘lapar menulis’, jalan apa pun
ditempuh, it’s goal is do writing.
Jadi, jika kita ingin menjadi penulis atau pengarang, untuk
mencapainya adalah menulis – do writing, do it soon, very soon, don’t
be postponed. Sayangnya, banyak pihak yang ingin menjadi pengarang atau
penulis tetapi hanya sebatas ‘ingin’ karena tidak juga menulis.
Alasannya, sulit memulai, tidak punya waktu, takut salah, malu atau
tidak ada inspirasi/ide yang pas untuk ditulis. Akhirnya, proses
menulis pun tertunda.
Benar, untuk memulai menulis memang memerlukan proses kreatif yaitu
dimulai dengan adanya ide (kekayaan batin/intelektual) sebagai bahan
tulisan. Pengalaman saya, ide itu bisa diperoleh/didapat setiap saat,
kapan mau menulis. Sumber utamanya adalah bacaan, pergaulan,
perjalanan (traveling), kontemplasi, monolog, konflik dengan diri
sendiri (internal) maupun dengan di luar diri kita (external),
pembrontakan (rasa tidak puas), dorongan mengabdi (berbagi ilmu),
kegembiraan, mencapai prestasi, tuntutan profesi dan sebagainya.
Semuanya itu bisa dijadikan gerbang untuk mendorong memasuki proses
kreatif menulis. Kuncinya adalah punya hasrat yang kuat untuk menulis
yang sebelumnya telah saya sebut sebagai the strong will to write
sebagai modal utama untuk mulai menulis.
Modal kedua, adalah berkomitmen disertai disiplin untuk menulis.
Antara lain mempuyai jadwal tetap untuk menulis dan rajin mengumpulkan
ide-ide yang akan ditulis. Kedua hal tersebut perlu ditaati agar
proses kreatif tidak terputus. Sayangnya, kadang kegiatan rutin yang
wajib kita kerjakan membuat kegiatan menulis jadi tertunda atau
terbengkalai sehingga tulisan tidak pernah menjadi suatu karya. Untuk
mensiasatinya, maka perlu menulis di pagi hari (dini hari) atau malam
(hingga larut malam, menjelang pagi). Baik juga memanfaatkan waktu
luang pada akhir pekan atau hari libur. Yang penting, ada waktu
khususnya untuk memberi ‘ruang’ proses kreatif yang kemudian dituangkan
dalam bentuk tulisan (karya nyata).
Proses kreatif menulis akan terwujud dengan baik apabila adanya:
Konsentrasi untuk menulis
Menghimpun materi yang akan ditulis
Pengembangan materi yang akan ditulis (mapping mind – menulis dalam kepala)
Dukungan referensi dan sarana menulis Membuat draft materi yang akan ditulisà juga tentukan fiksi atau non fiksi
Diskusi dengan teman untuk membicarakan tulisan akan ditulis – bila diperlukan
Menyusun jadwal untuk menulis disesuaikan dengan jam
produktif/biological clock (masing-masing orang punya jam-jam produktif
yang berbeda)
Siap menulis tanpa keraguan/bimbang (sungguh-sungguh)
Siap sendirian (menyendiri pada waktu menulis)
Tubuh dalam kondisi fit agar pada waktu menulis tidak ada gangguan kesehatan
Sediakan ‘ruang’ yang nyaman untuk bekerja (menulis)
Ciptakan ciptakan/kondisikan dalam mood yang baik (in the good mood) pada saat akan menulis
Mengolah Kata
Menulis bukanlah sekadar membuat kalimat, melainkan diperlukan
kemampuan mengolah kata. Kata-kata yang diolah juga bukan sembarang
kata, melainkan kata-kata yang telah dipilih (terpilih) untuk dijadikan
media menulis. Kata-kata yang dipilih ini akan membuat tulisan baik
atau buruk, menarik atau membosankan dan mudah atau sulit dipahami
pembacanya.
Dalam teori creative writing, untuk menjadi seorang penulis atau
pengarang, pertama-tama harus mampu memilih kata-kata yang akan
dijadikan media tulisannya. Karena, kata-kata ini merupakan senjata
utama bagi penulis/pengarang untuk ‘menaklukkan’ pembaca. Agar dapat
memilih dengan leluasa, maka setiap pengarang/penulis wajib kaya atau
punya koleksi kata-kata tak terbatas, untuk dirangkai menjadi kalimat.
Pengkayaan kosa kata dapat diperoleh dari bacaan, kamus, pergaulan
dan penguasaan beberapa bahasa asing. Penggunaan kosa kata ini
tergantung pada keperluan masing-masing (menulis untuk fiksi atau
non-fiksi). Tentunya, keperluan pengarang dengan penulis berbeda.
Masing-masing punya jargon dan gaya tersendiri. Meskipun demikian,
mereka ini punya goal yang sama: tulisannya ingin dibaca pembaca
sebanyak dan seluas mungkin. Oleh karena itu, setiap penulis/pengarang
pada waktu menulis telah memikirkan siapa sasaran pembacanya. Sehingga
tidak salah ‘tembak’.
Tulisan yang menarik (baik fiksi maupun non-fiksi) bagi pembaca,
yang utama adalah mudah dipahami. Ada pun yang membuat sebuah tulisan
itu mudah dipahami, yaitu:
Ditulis dengan kata-kata yang mudah dipahami pembacanya (tidak
banyak menggunakan istilah asing dan jargon-jargon tertentu yang tidak
diketahui awam). Apabila ada kata-kata asing atau jargon-jargon
tertentu, buat penjelasannya
Ditulis dengan kalimat pendek (idealnya 10 – 15 kata, bila lebih dari
itu harus ditanda dengan tanda baca yang ketat, agar pembacanya tidak
tersiksa) Alur kalimat ditulis linier tidak bersifat ‘labirin’
(muter-muter, bertele-tele), sehingga tulisan terasa mengalir
(flowing)
Tidak ada pengulangan kata-kata dan tidak banyak kata sambung seperti: lalu, kemudian, karena, jadi….dst
Untuk tulisan ilmiah (academic writing) hindari penggunaan kata-kata
bersayap dan data yang tidak jelas (harus eksak) à (akan diberi
contohnya)
Untuk tulisan non-fiksi hindari pengunaan kata yang sifatnya
memberi kesan ‘kering’. Kata bersayap diperlukan, juga bunga kata asal
tidak berlebihan.
Isi tulisan tidak menggurui, tetapi memaparkan/menjelaskan sekalipun itu tulisan yang bersifat ‘pengajaran’.
Menyajikan tulisan dengan struktur susunan kata menjadi kalimat
yang runtut dan paragraph yang tertata, sehingga tulisan mudah
dicernak pembacanya
Mampu menggunakan tanda baca (dalam tulisannya) dengan tepat
Mencari ‘readers’ sebelum tulisan diterbitkan untuk minta pendapatnya (jika diperlukan)
Banyak membaca buku-buku yang disukai pembaca untuk dipelajari
bahasa dan gaya penulisan para penulis/pengarang buku-buku yang
banyak penggemarnya tersebut. Walaupun masing-masing penulis/pengarang
idealnya punya ciri khas tersendiri.
Berani dan mau menerima kritik
Penutup
Kemampuan mengolah kata-kata untuk dirangkai menjadi kalimat tidak
bisa dimiliki oleh siapa pun dalam waktu sekejap. Melainkan,
memerlukan latihan yang panjang dengan cara terus menulis dengan jadwal
tertentu. Materi yang ditulis boleh apa saja, termasuk catatan
harian. Karena menulis merupakan ‘petualangan’ yang tidak terbatas dan
itu jelas menyenangkan..
Agar bentuk tulisan bisa terwujud, hindari membaca tulisan yang
sedang dikerjakan. Sebab, hal ini akan menimbulkan keragu-raguan karena
merasa tidak sempurna. Sehingga tulisan akan diulang-ulang dan
akhirnya tidak jadi. Maka, sebaiknya tulisan dibaca bila telah selesai
ditulis (kecuali menulis novel, perlu dibaca bab per bab).
Selain itu juga diperlukan memampuan mengedit (menyunting) tulisan sendiri.
Penyuntingan ini berguna untuk:
Menyesuaikan panjang tulisan dengan ruang yang akan dipergunakan untuk mempublikasi tulisan tersebut
Penyempurnaan kalimat
Menciptakan peluang untuk mengkaji isi tulisan, gaya bahasa dan pemilihan kata-kata
Ada peluang menciptakan daya tarik seoptimal mungkin untuk pembaca
Menonjolkan ciri khas gaya tulisan
Tulisan yang ditulis benar-benar matang
Daftar Pustaka Bovee, Courtland John V, Thill, 1999. Business Communication Today (Sixth Edition). New Jersey: Prentice Hall
Connolly, Francis X, 1977. Advanced Composition: A Book of Models for Writing. New York: Harcourt Brace Jovanovich
Garry Provost, 1985. 100 Ways ti Improve Your Writing. London: Penguin
Gordimer, Nadine, 1995. Writing and Being. Massachussetts: Harvard University Press
Lewis, David, 1989. The Secret Language of Success. New York: Carrol and Graf
Plimpton, George (Editor), 1999. The Paris Review Interviews Women Writers At Work. London: The Harvill Press
Pranoto, Naning, 2004. Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang. Jakarta: Prima Pustaka
sumber http://www.rayakultura.net/proses-kreatif-dan-mengolah-kata/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar