Selasa, 30 September 2014

Bagaimana Cara Menulis Novel yang Bagus, Menarik, dan Best Seller?

andreaBanyak orang menanyakan Bagaimana Cara Menulis Novel yang Bagus, Menarik, dan Best Seller.
Saya pernah ditanyain begini sama peserta training Penulisan beberapa waktu yang lalu, “Saya kurang bisa merangkai kata untuk membuat novel, bagaimana sih caranya?” Juga ada yang nanyain bagini, “Novelku baru selesai setengah, bagaimana sih cara menyelesaikannya? Adakah cara membuat novel yang bagus?”
Saya yakin, banyak orang lain yang memiliki pertanyaan sama, mungkin termasuk Anda.
Apakah  Anda ingin tahu bagaimana cara meningkatkan kemampuan Anda dalam menulis Novel?

Baiklah, menurut pendapat saya begini:
SATU
Latih terus kemampuan menulis novel Anda. Jangan pernah berhenti menulis novel. Sebab menulis itu seperti  berenang. Semakin tinggi “jam terbang Anda”, maka keahlian Anda akan semakin baik. Pepatah mengatakan, “Ala bisa karena biasa.”
Ya, Anda harus biasa dulu untuk bisa menulis novel yang bagus dan menarik. Anda harus biasa dulu untuk tahu cara cepat membuat novel. Anda harus biasa dulu untuk tahu cara mudah membuat novel yang bagus dan menarik.
DUA
Banyak-banyaklah membaca novel-novel berkualitas. Tubuh Anda ini seperti mesin produksi, bahan mentahnya adalah bacaan Anda, dan produk yang dihasilkan adalah tulisan. Artinya, kegiatan membaca bagi seorang penulis novel sangatlah penting. Tulisan Anda akan diwarnai oleh bacaan yang Anda lahap. Bila Anda rajin membaca novel cinta maka Anda akan mudah dan tahu cara menulis novel cinta.
Bila Anda sering membaca novel misteri, maka Anda akan mudah dan tahu cara menulis novel misteri.
Bila Anda sering membaca novel horor. maka Anda akan mudah dan tahu cara membuat novel horor.
Bila Anda sering membaca novel anak. maka Anda akan mudah dan tahu cara membuat novel anak.
Bila Anda sering membaca novel islami. maka Anda akan mudah dan tahu cara menulis novel islami.
Demikian seterusnya dan seterusnya….
Bila Anda ingin membuat novel yang bagus dan menarik seperti “Laskar Pelangi” misalnya, maka sering-seringlah membaca novel yang kualitasnya seperti itu. Bila Anda rajin membaca novel best seller dan menarik, Maka Anda akan ketularan! Anda akan tahu bagaimana cara menulis novel best seller dan menarik.
Tips yang saya sampaikan di atas mungkin terkesan sangat sederhana bagi Anda. Mungkin Anda berkata dalam hati, “Ah, kalau tips menulis novel seperti ini mah, saya sering dengar. Apa tidak ada tips menulis novel yang lain?”
Anda mungkin tidak percaya?
Saya ingin kasih tahu, tips menulis novel di atas memang terkesan sangat sederhana, tapi untuk tahu cara membuat novel yang bagus, menarik dan bahkan best seller, tipsnya hanya sesederhana itu. Titik, tidak pake koma.
Tips yang pertama, memang terkesan sangat sederhana. Namun bila tips menulis novel itu Anda praktekkan sungguh-sungguh, Anda akan menemukan teknik menulis novel best seller yang baik dan benar. Sebab setiap kebiasaan baik, selalu menghasilkan kualitas yang baik pula.
Betul, ga?
Tips yang kedua juga terkesan sangat sederhana. Namun bila tips menulis novel itu Anda praktekkan sungguh-sungguh, Anda akan menemukan teknik membuat novel best seller yang menarik. Sebab setiap yang baik itu selalu menular.
Apakah Anda Sepakat?
Penulis novel best seller lain juga melakukan itu, termasuk Andrea Hirata. Dia sangat suka membaca novel yang baik dan menarik. Ia memiliki banyak koleksi bacaan berkualitas sehingga ia jadi ketularan.
Praktekkan saja kedua tips membuat novel yang bagus di atas. Saya yakin, suatu saat nanti Anda akan sehebat Andrea Hirata, bahkan lebih hebat lagi!
Demikian posting, Bagaimana Cara Menulis Novel yang Bagus, Menarik, dan Best Seller? ini saya tulis. Kalau ada komentar silakan isi dibwah ini, ya.
This entry was posted in cara menulis novel and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 2)

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel saya terdahulu, Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 1). Beda dengan artikel terdahulu, pada artikel ini saya akan mempraktikkan teori di bagian 1.
Seperti yang sudah saya tulis, saya lebih senang memulai cerita pada bagian konflik. Saya merasa lega jika sudah menyelesaikan bagian konflik, sebab “tak ada masalah” berarti tak ada cerpen/novel. Untuk mempratikkan teori, saya akan memaparkan proses pembuat cerpen horor saya yang berjudul Temani Aku.
Saya mengambil ide cerita dari bank ide yang selalu saya tambahkan apabila saya mendapat ide baru. Ide tersebut saya tuliskan seperti ini:
Seorang arwah A mencari manusia hidup B untuk menemaninya di alam mereka
Ide diatas saya kembangkan dengan mengacu pada tokoh. Dalam membuat cerita, saya selalu memasukkan unsur humanisme karena meskipun saya membuat cerita horor, saya tidak ingin hanya sekedar membuat rasa ngeri atau misteri. Saya punya tiga pilihan kelamin tokoh A-B Cowok-cowok, cowok-cewek, atau cewek-cewek. Pilihan cowok-cowok saya buang, karena tokoh cowok-cowok lebih bagus hanya untuk berseteru, teman adu fisik, atau adu ego. Rasanya cowok-cowok akan aneh kalau terlalu mesra (kecuali homo). Sebenarnya tokoh cewek-cewek adalah baik mengingat cewek-cewek mempunyai apa yang disebut sebagai sisterhood yang kuat (rasa solidaritas antar cewek), tetapi saya mengubah kelamin tokoh B saat menulis bagian awal cerita. Nah, sekarang ide saya menjadi berikut:
Seorang arwah wanita A mencari cowok B untuk menemaninya di alam mereka
Terus apa konfliknya:
Arwah wanita A kesepian, karena dia dibunuh dan dibuang di tempat terpencil. Dia mencari cowok yang baik B (karena dia mati oleh cowok yang berkelakuan buruk sehingga dia rindu merasakan kebaikan cowok). Cowok B tidak mau, sebab dia sudah mempunyai pacar C (Cowok B mengira cewek A menginginkannya menjadi cowok-nya. Padahal maksud Si Arwah, cowok B mati dulu agar arwah cowok B masuk ke alam cewek A).
Konflik sudah tercipta. Sekarang saya harus merancang bagian akhir. Rasa kemanusiaan harus terasa di bagian ini, oleh karena itu saya menginginkan arwah A harus diakhiri penderitaannya dan menemui kedamaian tanpa mengorbankan cowok B (cowok B tetap hidup dan tetap bersama pacar C). Saya melaksanakan pemikirin ini dengan: Mayat cewek A diketemukan. Saya merancangnya diketemukan di danau. Danau saya pilih sebab bagian konflik terjadi pada mimpi cowok B di danau. Dan kenapa konflik di danau? Karena akan menimbulkan rasa misteri. Gak lucu cerita horor terjadi secara massal (seperti film The Mummy). Cerita horor harus terjadi pada kesendirian tokohnya atau grup kecil dan pada tempat yang terpencil (dalam cerita saya, danau).
Pada bagian akhir, saya juga menceritakan sejarah cewek A menjadi arwah. Sejarah cewek A ini saya gunakan untuk memperkuat rasa sentimental di bagian konflik (yang lebih ke arah konfrontasi antara cewek A dan cowok B). Setelah itu, saya memberitahu pembaca bahwa cerita selesai dengan cara menarasikan kedatangan cowok B ke makam cewek A bersama pacar C. Keikutsertaan pacar C ke makam bersama cowok B saya gunakan sebagai keterangan akhir bahwa cowok B masih setia pada pacarnya.
Bagian akhir perancangan cerita justru merancang bagian permulaan (Lho?) sebab saya memulai dari bagian konflik, bagian akhir terus ke bagian permulaan. Pada bagian permulaan, saya harus melogiskan cerita di konflik dan bagian akhir.
  1. Kenapa cowok B bisa ketemu cewek A? Jawaban: Karena cowok B sedang KKN di desa tempat cewek A tewas dan cewek A ingin mencari seseorang untuk menemaninya dan memuaskan akan perasaan dicintai seorang cowok yang baik.
  2. Kenapa cewek A suka dengan cowok B? Jawaban: Karena perhatian cowok B dengan mengurut kakinya
  3. Cowok B harus diisolasi dari orang lain (dia harus sendirian berhadapan dengan cewek B agar lebih mendebarkan)
  4. Saya memasukkan chemistry antara cowok B-cewek A agar cerita lebih sentimentil dengan adegan cowok B mengurut cewek A. Tetapi kenapa cowok B mengurut cewek A? Oleh karena alasan ini, saya membuat cewek A jatuh karena terkejut. Lantas hal logis apa yang membuat cewek A terkejut, kan dia arwah, pastinya tak akan ada seseorang yang membuat arwah takut (kalau manusia takut arwah sih sudah jelas jawabannya). Jawaban: cewek A ingin menguji kebaikan cowok B
Sampai tahap ini, anda sudah mengetahui proses kreatifitas saya dalam membuat cerpen horor Temani Aku. Anda pasti memperhatikan, bahwa saya cuma menggunakan A, B, dan C untuk mengidentifikasi tokoh secara individu. Saya mempunyai kecenderungan menyelesaikan plot cerita terlebih dahulu daripada nama karena bagi saya plot adalah bagian terberat dalam memanjakan pembaca. Mengganti nama tokoh dapat dengan cepat dilakukan di MS Words atau Open Office. Tinggal search dan replace tetapi tidak dengan plot. Mengubah di titik tertentu plot bisa saja merubah keseluruhan cerita. Membuat plot sama saja membuat pondasi sebuah rumah. Lewat pondasi, kita dapat mengetahui ukuran ruangan, juga menentukan apakah rumah kita dapat dibuat bertingkat atau tidak, atau apakah tembok kita cepat menjadi lembab atau tidak.
Saya menginginkan arwah A haruslah cewek manja (kelemahan) tetapi tangguh (kekuatannya). Sedangkah tokoh B haruslah cowok setia (kekuatannya) tetapi mudah merasa kasihan (kelemahannya). Dalam kelemahannya, cewek A ingin mencari seseorang untuk menemaninya tetapi tangguh (ingin mencekik cowok B dalam mimpi). Dalam kekuatannya cowok B tetapi setia dan tak menuruti cewek A namun berusaha menemukan tempat mayat cewek A(karena kasihan terhadap nasibnya, meskipun cewek A berusaha mencekiknya). Pemikiran-pemikiran tadi yang membuat saya memilih nama Icha dan Jaka. Nama tersebut saya ambilkan dari library saya, sebab saya sudah mempunyai kamus nama lengkap dengan artinya. Saya mengulang-ulang nama Icha dan Jaka dalam batin saya untuk merasakan efek nama ini, dan saya mantap memakainya.
Sebagai akhir artikel, saya meringkas apa yang sudah saya jelaskan pada artikel pertama dan kedua ini dengan membandingkan waktu untuk mendapatkan hal tersebut antara cara konvensional dan cara yang saya lakukan sebagai berikut:
Nama Aksi Cara Saya Cara Konvesional Saya
Mendapatkan ide Bank Ide: 0 menit, karena saya tinggal mengambil dari catatan saya Mendadak: 3 hari
Mengerjakan bagian yang paling disukai (Anda dapat memilih sendiri sesuai kemampuan anda) 0 menit Bisa sampai sejam
Nama tokoh Bank Nama: 0 menit. Saya tinggal mengambil dari library saya (kamus nama, catatan mengenai arti nama) Bisa sampai sehari

Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 1)

Menulis cerpen hanya dalam waktu sejam? Mungkinkah? Saya menjawabnya mungkin! Saya sering melakukannya karena semenjak masih di sekolah saya sering jualan cerpen. Saat masih bersekolah, Mading (Majalah Dinding) dan majalah sekolah adalah hal terkeren yang bisa dilakukan murid-murid sekolah. Entah untuk alasan nampang, pengin ngelaba secara literal atau sekedar dapat nilai pelajaran Bahasa Indonesia. Bagi saya adalah ajang cari duit sebab kebanyakan dari Mading tersebut berisi cerpen. Karena mereka sering tak punya waktu menulis, biasanya mereka beli dari saya..he..he..he..he.
Lantas bagaimana cara membuat cerpen dalam sejam? Mari kita bicara secara logika saja. Jika anda ingin memasak makanan, anda tentu harus mempunyai bahan. Apa yang anda masak kalau bahan tidak ada. Kedua, anda harus mempunyai cara memasak bahan tadi. Jika anda ingin memasak sup, anda tahu bagaimana membuat kaldu. Bahan-bahan apa saja yang dimasukkan pertama kali. Dan kapan saatnya memberikan bumbu serta kapan menyatakan selesai memasak. Di dalam penulisan fiksi, point-point tadi berlaku.
Sebagai bahan pertama, anda tidak bisa tidak harus mempunyai bank ide. Bank ide adalah kumpulan inspirasi-inspirasi yang muncul dimana saja, kapan saja tanpa permisi. Karena tanpa permisi, maka anda harus mencatatnya saat itu juga. Dan karena anda harus mencatatnya saat itu juga, maka kemana-mana biasakanlah membawa notes dan bolpoint. Kenapa harus bank ide? Sebab banyak waktu dipakai hanya untuk memikirkan mau menulis apa, ya? Jika anda sudah mempunyai Bank ide, maka anda tinggal mencomot salah satunya sebagai roh cerpen anda manakala dibutuhkan.
Berikut ini adalah beberapa contoh tulisan ide saya.
  1. Seorang cowok mencintai cewek yang frigid karena perlakuan tidak senonoh pamannya.
  2. Seorang cewek mencintai seorang cowok yang ternyata waria
  3. Seorang adik cemburu karena kakaknya tidak perhatian terhadapnya dan mulai bermain sendirian di rumah kosong sebelah rumah sehingga bertemu teman bermain dalam wujud arwah tetapi dia tidak tahu kalau temannya itu arwah (cerita misteri)
Bahan kedua adalah banyak-banyaklah membaca cerpen dan novel. Kenapa? Sebab kegiatan ini akan meningkatkan reflek tulisan anda. Mengenai reflek, anda dapat membandingkannya dengan orang berlatih beladiri. Kenapa mereka melatih satu pukulan selama berjam-jam. Sebab dengan membiasakan pukulan tersebut, suatu ketika akan timbul kebiasan, dan kebiasaan akan menghasilkan reflek. Dengan adanya reflek ini, anda tidak perlu memikirkan harus memukul dengan cara apa ketika menghadapi lawan. Reflek ini yang membuat anda secara otomatis melakukan pukulan tertentu.
Bahan ketiga adalah membaca/mempelajari non-fiksi. Pelajari bentuk-bentuk rumah di sekitar anda atau lewat majalah arsitektur. Amati bagaimana cara wanita memakai make-up. Cari tahu jenis-jenis sepatu, jenis-jenis kain pakaian, cara bicara orang pada daerah tertentu. Baik juga untuk mempelajari jenis-jenis tanaman-tanaman, bunga, jenis mobil, sepeda motor dan sebagainya. Non-fiksi ini akan membantu anda mendeskripsikan setting/background cerita dan pernak-pernik tokoh anda.
Setelah bahan, mari kita membicarakan masalah cara memasak. Tulislah pada bagian yang sangat menarik bagi anda. Jika bagian pertama tidak menarik, anda tidak perlu memaksakan diri menulis pada bagian pertama. Lebih baik selesai menulis bagian lain daripada menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan bagian pertama. Saya pribadi lebih suka menulis pada bagian konflik, kemudian bagian penyelesaian, baru pada bagian permulaan.
MulaKonflikAkhir
Gambar 1
Permulaan adalah penting. Kata pertama, kalimat pertama, paragrap pertama adalah neraka dalam penulisan fiksi. Pada bagian ini pembaca memutuskan apakah suka/meneruskan membaca cerita kita. Dengan demikian bab pertama perlu mendapatkan perhatian serius dari kita. Saya pribadi mempunyai beberapa pilihan untuk menulis paragrap pertama.
  1. Memulai dengan bagian paling menarik pada cerita
  2. Memulai dengan konflik
  3. Membuat pembaca bertanya-tanya
Berkenaan dengan permulaan cerita. Saya menyarankan beberapa hal:
  1. Perkenalkan setting cerita.
    Apakah terjadi di sekolah? Di rumah tua? Di Indonesia? Di Korea? Pembaca pasti ingin segera tahu setting agar bisa segera masuk ke cerita.
  2. Perkenalkan tokoh utama secepat mungkin.
    Tokoh utama adalah tempat hati pembaca meletakkan emosi mereka. Semakin cepat anda mengenalkan tokoh, semakin mudah anda mengarahkan emosi mereka di kalimat-kalimat selanjutnya.
  3. Pembaca ingin segera tahu apakah cerita ini cocok untuk mereka. Karena hal ini anda harus sudah memberi mereka rambu. Beritahukan kepada mereka apakah cerita anda tentang remaja yang bercinta? Horor? Fantasi?

Menulis Sembarang Sebagai Pemanasan Sebelum Menulis

free writing, menulis bebas 
Saya seorang programmer. Seorang programmer mempunyai kebiasaan mempunyai konsep sebelum membuat sebuah program komputer. Sebagai contoh, jika saya membuat program akuntansi, maka saya harus bisa akuntansi terlebih dahulu. Kebiasaan seperti ini menghambat hobi menulis saya.
Di lain pihak, menulis bekerja dengan cara yang sebaliknya. Kita harus menangkap berbagai imajinasi di dalam pikiran kita dan membuatnya menjadi sebuah tulisan. Bayangkan bahwa imajinasi adalah seperti burung-burung dalam jumlah banyak yang berterbangan di sekitar kita. Pada saat menulis kita harus menangkap salah satu dari burung-burung tersebut. Pekerjaan ini tidak mudah, terutama bagi orang ber-“otak kiri”. Otak kiri yang bersifat logika, analistis dan obyektif. Otak kiri selalu memberikan alasan pada hasil otak kanan yang bertanggung jawab terhadap intuitif,obyektif dan bijaksana.
Dengan demikian pada saat kita melakukan proses kreatif ini, kita harus mengijinkan otak kanan untuk mengambil alih sementara. Otak kiri mulai mengambil peran saat kita mulai membentuk plot (plot harus logis) dan mulai mengisi kerangka dengan isi cerita
Menulis bebas (freewriting) dapat digunakan untuk melatih otak kiri bekerja dengan luwes. Manfaat dari teknik ini adalah:
  1. Membiarkan otak kanan bekerja terlebih dahulu daripada otak kiri. Dengan demikian kita membiasakan diri mendapat ide tanpa filter dari otak kiri
  2. Menimbulkan reflek menulis (Ingatlah, orang yang latihan beladiri sekian lama akan mempunyai reflek bertarung tanpa berpikir terlebih dahulu apakah harus menangkis atau menendang. Semuanya berjalan otomatis)
  3. Mengatasi writer block
  4. Menggali ide menulis
  5. Dan tentu saja………ini adalah cara penulis bersenang-senang
Langkah-langkah berikut dapat digunakan untuk latihan menulis bebas:
  1. Ambil alat untuk menulis. Bisa pena dan kertas atau laptop
  2. Tetapkan waktu, minimal 10 menit
  3. Dalam waktu yang sudah anda tetapkan, tulislah segala sesuatu yang melintas di pikiran anda. Jangan menghakimi pikiran anda, tulis saja tanpa sensor
Ini adalah contoh dari Menulis Bebas Selama 10 Menit yang saya lakukan:
Gadis di tepi pantai. Bunga matahari. Berlari-lari sambil minum es krim. Mencium Mama saat pulang. Ikan asin. Rice cooker. Program komputer. Burung layang-layang di angkasa. Menari bersama anjing kesayangan. Bunga kamboja gugur di tanah. Sapi-sapi melenguh menyambut petani. Wanita tua memakai pakaian anak remaja. Mata memandang seorang gelandangan. Kipas angin berputar-putar. Tas warna hitam terbuang di tong sampah. Kabel berwarna jingga. Nyamuk. Modem. Facebook. Aku dan kamu akan bersatu. Balon berwarna-warni terbang di angkasa. Monyet mencicit seperti burung. Burung hitam mengejar anak ayam. Potongan rambut di kasur. Angin membuat masuk angin. Sekolah SMA dilanda banjir. Susu dicampur mentega. Gemuk. Tempe. Tahu. Pizza. Ayam. Neraka. Surga. Kucing sedang bertengkar. Pandawa lima. Tanah berwarna merah. Warna-warna pelangi. Boneka barbie dipegang seorang anak. Mobil-mobilan. Kontainer. Buku. Sarang laba-laba. Minum air kelapa. Sayang sekali kamu tidak datang. Suara serak dari arah belakang. Sepi. Bingung. Mobil. Menangis. Tisu wangi. Kamar mandi. Pengin pipis. Telur orak-arik. Pangeran dari negeri antah berantah. Patih Gandara. Tiga laki-laki berpakaian abu-abu. Kumis tipis. Layang-layang berbentuk boneka. Mawar. Melati. Biru. Topi. Berlian. Apa-apan ini. Aku muak. Serba salah. Mau apa kamu? Entah saja. Mau jalan-jalan di gunung. Menyepi bersama sapi. Teman dekat. Jangan pernah berubah. Aku menyukaimu. Cinta tak akan pernah memilih. Aku dan kamu adalah satu. Sayang sekali kamu pergi. Hallo. I’m the best. Pergi dan jangan pernah berpikir untuk kembali. Raja dari mega. Planet bersaput merah. Darah. Pisau. Makam. Mahkota. Edan. Gila. Warna putih. Rumah dengan warna hitam. Hahahahah. Derai tawa. Hei, kamu.
Catatan Penulis:
  • Teori Otak Kanan-Kiri adalah hasil pemikiran Roger W. Sperry
  • Teori Menulis Bebas/freewriting adalah hasil pemikiran Peter Elbow
Sumber gambar: http://www.english-studyguide.com/2013/11/ielts-task-2-writing-how-to-write.html

Senin, 29 September 2014

Bagaimana Cara Menciptakan Tulisan Yang Kreatif?

Bagaimanakah bahasa penulisan Anda? Apakah kreatif atau tidak kreatif? Banyak orang mengagumi gaya bahasa Andrea Hirata karena penulisannya yang kreatif. Andrea bisa begitu karena memang didalam dirinya telah mengalir energi seni, yakni kepiawaian merangkai kata yang dapat menimbulkan rasa senang dan rasa nikmat pada diri pembacanya.
Kepiawaiannya merangkai kata seperti seorang pelukis profesional yang mampu menggambarkan keindahan ciptaan dengan tangannya yang lentur mengayun-ayunkan kuas di atas kanfas. Itulah daya tarik Andrea, ia mampu menghipnotis pembaca dengan bahasa kreatif sehingga banyak bukunya laris manis di pasaran.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki kemampuan menulis bahasa yang elok-kreatif?
Walaupun Anda belum memiliki kemampuan membuat gaya bahasa yang kreatif, itu bukan masalah jika Anda mau-bersedia berlatih. Intinya ada pada mengalami yang ujungnya nanti disebut peng-alam-an. Bila Anda rajin berlatih maka Anda akan menguasai dan melahirkan bahasa yang lebih baik dan lebih kreatif.

Baik, sekarang saya kasih contoh perbedaan penulisan tidak kreatif dan penulisan kreatif dibawah ini:
–> Penulisan tidak kreatif: Bulan nampak putih bulat dilangit. Disekitarnya ada awan tipis tampak mengitarinya.
–> Penulisan kreatif: Sinar rembulan menguak dari balik awan tipis. Cahayanya perlahan menembus dedaunan pohon cemara dimana aku dan kekasih hati duduk bercengkrama. Tetes embun malam mulai melangkah turun perlahan jatuh membelai rambut dan kulit wajah dan tanganku.
Hmmmm…… apakah penulisannya terlihat berbedaaa….? Mana yang kreatif dan mana yang tidak kreatif?
Sebenarnya contoh penulisan kreatif diatas adalah untuk tulisan fiksi, namun sebenarnya juga bisa digunakan untuk penulisan lainnya kecuali penulisan ilmiah.
Beberapa tips agar penulisan Anda menjadi kreatif adalah sebagai berikut:
  • Milikilah daya imajinasi yang kreatif. Sambil menulis, cobalah membayangkan kata yang cocok untuk suatu benda, kejadian, atau fenomena. Misalnya: Bulan -> rembulan,    merah + merekah,      luar biasa + dahsyat,  … dll.
  • Kuasailah bahasa yang kreatif. Bahasa yang kreatif juga sangat perlu anda kuasai. Penulisan kreatif memerlukan penguasaan bahasa yang baik kerana ia akan membantu anda menghasilkan karya yang baik. Cara terbaik untuk menguasai bahasa kreatif adalah dengan banyak mengamati padanan kata atau sinonim dalam kamus bahasa.
  • Hanya saja tulisan tidak boleh dipoles terlalu belebihan alias lebay namun kreasikanlah ia dengan secukupnya saja.
Ingat!!! Penilaian sebuah tulisan bukan saja terletak pada cerita, plot, tema (kalo dalam fiksi), isi, sumber rujukan, dan sebagainya tetapi penguasaan bahasa juga penting. Bila penulisannya kreatif, maka akan dapat menimbulkan minat baca yang lebih tinggi ketimbang penulisan yang tidak kreatif.
Penulisan yang kreatif membuat orang senang dan bahagia membacanya sedangkan penulisan yang tidak kreatif menimbulkan kebosanan dan kejauhan pembaca. Teknik penulisan kreatif dan yang tidak kreatif mempunyai perbedaan yang dapat dirasakan efeknya.
Penulis kreatif bukan bermaksud merusak bahasa dengan meliak-liukkan kata tetapi bahasa akan menjadi lebih indah kerana kreatifitas seorang penulis untuk menggambar sesuatu yang berbeda dengan penulis yang tidak kreatif berhahasa.

 Sumber  http://caramenulisbuku.com/caramenulisbuku/bagaimana-cara-menciptakan-tulisan-yang-kreatif.htm

Pemilik Kamar Berantakan itu Kreatif. Ini Buktinya.

Oleh: Rizki Ramadan, 25 September 2014 Kamar Kayak Kapal Pecah. Otaknya Kreatif Parah
Kamar Kayak Kapal Pecah bikin Otak Jadi Kreatif Parah
Selama ini kita selalu disuruh-suruh untuk menjadi rapih. Kemeja harus rapih. Naro barang di tas harus rapih.  Nyisir rambut harus rapih. Naro file di desktop harus rapih. Meja belajar harus rapih. Kamar harus rapih. Pokoknya hidup kita harus rapih. Bisa jadi, karena terobsesi dengan kerapihan, muncullah Rapih Amat yang kemudian namanya dibekenin jadi Rafi Ahmad.
Karena mitos harus rapih itu, kata 'berantakan' pun jadi negatif gitu maknanya. Kita-kita yang sebenernya suka dengan keberantakan ya kudu ngerasa salah, dibuat ngerasa beda, dibuat harus rela kena omel ortu mulu dan termarjinalkan #azeek Ejekan "kamar lo berantakan amat, kayak hidup lo." pun mau nggak mau sering mampir deh ke telinga kita.
Tapi nggak usah kesel, wahai para anggota Serabutan (serikat anak butuh berantakan). Soalnya, anggapan jelek soal berantakan itu udah bisa kita tangkis dengan hasil penelitian sekelompok psikolog yang diketuai  KATHLEEN D. VOHS. Menurut Kathleend cs, orang yang kamarnya berantakan itu cenderung lebih kreatif!!
            "Ruangan yang nggak teratur cenderung menginspirasi pemiliknya untuk bebas dari aturan. Dari keberantakan itulah dia bisa menemukan ide segar," kata Kathleen. Sementara orang-orang yang rapih cenderung lebih suka makanan yang sehat, hal-hal yang umum dan biasa.
            Bener juga sih, Kata kreatif itu sendiri kan bisa diartikan sebagai daya pikir yang baru dan berbeda, nah, pemilik ruangan yang dipenuhi tumpukan kertas, buku-buku yang berceceran, kuas dan cat berserakan, serta barang-barang lainnya yang nggak beraturan, selalu punya cara tersendiri (yang unik dan tetap taktis) untuk mengingat dimana barangnya dan bagaimana jika ia ingin memakainya.            
"Nasihat saya, jika kamu butuh berpikir out of the box, maka biar biarkanlah kekacauan muncul dan lepaskan imajinasi," katanya seperti dikutip Lifehacker
Berantakan dan Berhasil
Fakta mencatat banyak juga orang-orang besar yang ternyata doyan bekerja di meja yang berantakan.
Sebut aja Mark Zuckenberg, Steve Jobs, Mark Twain dan Albert Einstein. Tumpukan-tumpukan kertas dan barang berserakan begitu saja di mejanya.
einstein
Einstein dan meja kerjanya
mark zuckenberg
Mark Zuckenberg dan meja kerjanya
Bahkan Einstein sampai ngeluarin statement keren untuk menanggapi anggapan bahwa berantakan itu negatif.
Katanya,"If a cluttered desk is a sign of a cluttered mind, of what, then, is an empty desk a sign?"
Jadi, mulai sekarang, kalian-kalian yang kreatif, nggak usah ngerasa aneh dan beda lagi dengan kamar lo yang berantakan. tapi inget, berantakan dan kotor/jorok itu beda yah!!!
(foto: tiphereth

PROSES KREATIF DAN MENGOLAH KATA

Oleh Naning Pranoto
Writing is adventure
(Ernest Hemingway)
Pengantar
Writing is adventure – menulis adalah petualangan, demikian kata Ernest Hemingway, sastrawan besar AS yang karya-karyanya ditandai dengan jiwa-jiwa dan nafas petualangan. Pendapat ini didukung oleh para pengagumnya, khususnya para sastrawan Amerika Latin (misalnya Pablo Neruda dan Gabriel Gracia Marquesz) dan sastrawati Afrika Selatan Nadine Gordimer serta Milan Kundera, sastrawan Cheko. Saya sebagai pengagum Hemingway, juga merasakan hal tersebut: writing is adventure.
Yang dimaksud dengan ‘petulangan’ di sini adalah bukan petulangan secara raga, melainkan paduan dari kekayaan batin dan intelektual (materi dasar/bahan tulisan), imajinasi (kreativitas dan pengembangan) serta kosa kata (penguasaan bahasa). Paduan itu dirangkai menjadi suatu tulisan melalui suatu proses yang disebut proses kreatif.
Tulisan pendek berikut ini menguraikan sekilas mengenai proses kreatif untuk menulis suatu tulisan dan cara-cara menulis agar mudah dipahami pembacanya.
Proses Kreatif dan ‘Lapar’ Menulis
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘kreatif’ diartikan: (1) memiliki daya cipta; (2) memiliki kemampuan untuk menciptakan. Jadi, proses kreatif adalah proses mencipta sesuatu dan konteks dalam tulisan ini adalah mencipta tulisan atau menulis, baik itu tulisan yang bersifat fiksi maupun non-fiksi. Mereka yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non-fiksi disebut penulis. Seorang penulis bisa menjadi pengarang, tetapi pengarang pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatnnya, menjadi penulis diperlukan topangan referensi yang lebih luas dan mendalam, apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis/ilmiah. Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan menjadi penulis. Sebab, baik untuk menjadi pengarang maupun penulis, keduanya memerlukan modal utama yaitu memiliki dorongan yang kuat untuk menulis (the strong will to write) atau dalam jargon creative writing disebut ‘lapar menulis’ (tidak sekedar haus). Dapat dibayangkan, bagaimana jika kita lapar (kelaparan) harus makan. Tentunya, jalan apa pun ditempuh, bukan? Goal-nya adalah makan, harus makan. Dalam kasus ‘lapar menulis’, jalan apa pun ditempuh, it’s goal is do writing.
Jadi, jika kita ingin menjadi penulis atau pengarang, untuk mencapainya adalah menulis – do writing, do it soon, very soon, don’t be postponed. Sayangnya, banyak pihak yang ingin menjadi pengarang atau penulis tetapi hanya sebatas ‘ingin’ karena tidak juga menulis. Alasannya, sulit memulai, tidak punya waktu, takut salah, malu atau tidak ada inspirasi/ide yang pas untuk ditulis. Akhirnya, proses menulis pun tertunda.
Benar, untuk memulai menulis memang memerlukan proses kreatif yaitu dimulai dengan adanya ide (kekayaan batin/intelektual) sebagai bahan tulisan. Pengalaman saya, ide itu bisa diperoleh/didapat setiap saat, kapan mau menulis. Sumber utamanya adalah bacaan, pergaulan, perjalanan (traveling), kontemplasi, monolog, konflik dengan diri sendiri (internal) maupun dengan di luar diri kita (external), pembrontakan (rasa tidak puas), dorongan mengabdi (berbagi ilmu), kegembiraan, mencapai prestasi, tuntutan profesi dan sebagainya. Semuanya itu bisa dijadikan gerbang untuk mendorong memasuki proses kreatif menulis. Kuncinya adalah punya hasrat yang kuat untuk menulis yang sebelumnya telah saya sebut sebagai the strong will to write sebagai modal utama untuk mulai menulis.
Modal kedua, adalah berkomitmen disertai disiplin untuk menulis. Antara lain mempuyai jadwal tetap untuk menulis dan rajin mengumpulkan ide-ide yang akan ditulis. Kedua hal tersebut perlu ditaati agar proses kreatif tidak terputus. Sayangnya, kadang kegiatan rutin yang wajib kita kerjakan membuat kegiatan menulis jadi tertunda atau terbengkalai sehingga tulisan tidak pernah menjadi suatu karya. Untuk mensiasatinya, maka perlu menulis di pagi hari (dini hari) atau malam (hingga larut malam, menjelang pagi). Baik juga memanfaatkan waktu luang pada akhir pekan atau hari libur. Yang penting, ada waktu khususnya untuk memberi ‘ruang’ proses kreatif yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan (karya nyata).
Proses kreatif menulis akan terwujud dengan baik apabila adanya:
Konsentrasi untuk menulis
Menghimpun materi yang akan ditulis
Pengembangan materi yang akan ditulis (mapping mind – menulis dalam kepala)
Dukungan referensi dan sarana menulis Membuat draft materi yang akan ditulisà juga tentukan fiksi atau non fiksi
Diskusi dengan teman untuk membicarakan tulisan akan ditulis – bila diperlukan
Menyusun jadwal untuk menulis disesuaikan dengan jam produktif/biological clock (masing-masing orang punya jam-jam produktif yang berbeda)
Siap menulis tanpa keraguan/bimbang (sungguh-sungguh)
Siap sendirian (menyendiri pada waktu menulis)
Tubuh dalam kondisi fit agar pada waktu menulis tidak ada gangguan kesehatan
Sediakan ‘ruang’ yang nyaman untuk bekerja (menulis)
Ciptakan ciptakan/kondisikan dalam mood yang baik (in the good mood) pada saat akan menulis
Mengolah Kata
Menulis bukanlah sekadar membuat kalimat, melainkan diperlukan kemampuan mengolah kata. Kata-kata yang diolah juga bukan sembarang kata, melainkan kata-kata yang telah dipilih (terpilih) untuk dijadikan media menulis. Kata-kata yang dipilih ini akan membuat tulisan baik atau buruk, menarik atau membosankan dan mudah atau sulit dipahami pembacanya.
Dalam teori creative writing, untuk menjadi seorang penulis atau pengarang, pertama-tama harus mampu memilih kata-kata yang akan dijadikan media tulisannya. Karena, kata-kata ini merupakan senjata utama bagi penulis/pengarang untuk ‘menaklukkan’ pembaca. Agar dapat memilih dengan leluasa, maka setiap pengarang/penulis wajib kaya atau punya koleksi kata-kata tak terbatas, untuk dirangkai menjadi kalimat.
Pengkayaan kosa kata dapat diperoleh dari bacaan, kamus, pergaulan dan penguasaan beberapa bahasa asing. Penggunaan kosa kata ini tergantung pada keperluan masing-masing (menulis untuk fiksi atau non-fiksi). Tentunya, keperluan pengarang dengan penulis berbeda. Masing-masing punya jargon dan gaya tersendiri. Meskipun demikian, mereka ini punya goal yang sama: tulisannya ingin dibaca pembaca sebanyak dan seluas mungkin. Oleh karena itu, setiap penulis/pengarang pada waktu menulis telah memikirkan siapa sasaran pembacanya. Sehingga tidak salah ‘tembak’.
Tulisan yang menarik (baik fiksi maupun non-fiksi) bagi pembaca, yang utama adalah mudah dipahami. Ada pun yang membuat sebuah tulisan itu mudah dipahami, yaitu:
Ditulis dengan kata-kata yang mudah dipahami pembacanya (tidak banyak menggunakan istilah asing dan jargon-jargon tertentu yang tidak diketahui awam). Apabila ada kata-kata asing atau jargon-jargon tertentu, buat penjelasannya
Ditulis dengan kalimat pendek (idealnya 10 – 15 kata, bila lebih dari itu harus ditanda dengan tanda baca yang ketat, agar pembacanya tidak tersiksa) Alur kalimat ditulis linier tidak bersifat ‘labirin’ (muter-muter, bertele-tele), sehingga tulisan terasa mengalir (flowing)
Tidak ada pengulangan kata-kata dan tidak banyak kata sambung seperti: lalu, kemudian, karena, jadi….dst
Untuk tulisan ilmiah (academic writing) hindari penggunaan kata-kata bersayap dan data yang tidak jelas (harus eksak) à (akan diberi contohnya)
Untuk tulisan non-fiksi hindari pengunaan kata yang sifatnya memberi kesan ‘kering’. Kata bersayap diperlukan, juga bunga kata asal tidak berlebihan.
Isi tulisan tidak menggurui, tetapi memaparkan/menjelaskan sekalipun itu tulisan yang bersifat ‘pengajaran’.
Menyajikan tulisan dengan struktur susunan kata menjadi kalimat yang runtut dan paragraph yang tertata, sehingga tulisan mudah dicernak pembacanya
Mampu menggunakan tanda baca (dalam tulisannya) dengan tepat
Mencari ‘readers’ sebelum tulisan diterbitkan untuk minta pendapatnya (jika diperlukan)
Banyak membaca buku-buku yang disukai pembaca untuk dipelajari bahasa dan gaya penulisan para penulis/pengarang buku-buku yang banyak penggemarnya tersebut. Walaupun masing-masing penulis/pengarang idealnya punya ciri khas tersendiri.
Berani dan mau menerima kritik
Penutup
Kemampuan mengolah kata-kata untuk dirangkai menjadi kalimat tidak bisa dimiliki oleh siapa pun dalam waktu sekejap. Melainkan, memerlukan latihan yang panjang dengan cara terus menulis dengan jadwal tertentu. Materi yang ditulis boleh apa saja, termasuk catatan harian. Karena menulis merupakan ‘petualangan’ yang tidak terbatas dan itu jelas menyenangkan..
Agar bentuk tulisan bisa terwujud, hindari membaca tulisan yang sedang dikerjakan. Sebab, hal ini akan menimbulkan keragu-raguan karena merasa tidak sempurna. Sehingga tulisan akan diulang-ulang dan akhirnya tidak jadi. Maka, sebaiknya tulisan dibaca bila telah selesai ditulis (kecuali menulis novel, perlu dibaca bab per bab).
Selain itu juga diperlukan memampuan mengedit (menyunting) tulisan sendiri.
Penyuntingan ini berguna untuk:
Menyesuaikan panjang tulisan dengan ruang yang akan dipergunakan untuk mempublikasi tulisan tersebut
Penyempurnaan kalimat
Menciptakan peluang untuk mengkaji isi tulisan, gaya bahasa dan pemilihan kata-kata
Ada peluang menciptakan daya tarik seoptimal mungkin untuk pembaca
Menonjolkan ciri khas gaya tulisan
Tulisan yang ditulis benar-benar matang

Daftar Pustaka Bovee, Courtland John V, Thill, 1999. Business Communication Today (Sixth Edition). New Jersey: Prentice Hall
Connolly, Francis X, 1977. Advanced Composition: A Book of Models for Writing. New York: Harcourt Brace Jovanovich
Garry Provost, 1985. 100 Ways ti Improve Your Writing. London: Penguin
Gordimer, Nadine, 1995. Writing and Being. Massachussetts: Harvard University Press
Lewis, David, 1989. The Secret Language of Success. New York: Carrol and Graf
Plimpton, George (Editor), 1999. The Paris Review Interviews Women Writers At Work. London: The Harvill Press
Pranoto, Naning, 2004. Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang. Jakarta: Prima Pustaka

sumber http://www.rayakultura.net/proses-kreatif-dan-mengolah-kata/

Rabu, 24 September 2014

Sepuluh Tips Menjadi Penulis Sukses

Selasa, 28 Februari 2012, Republika Online
 
Untuk bisa menulis dengan baik, Anda perlu berlatih sebanyak dan sesering mungkin. Anda bisa menulis di blog pribadi atau di buku harian. Yang penting lakukan hal itu dengan tekun dan konsisten.

Berikut ini sepuluh tips penting yang bisa saya sarankan:

• Menulis dengan ringkas, padat dan sekaligus menarik. Semakin sering Anda menulis, semakin terampil Anda menggunakan kata atau kalimat yang relevan saja. Tidak ada kata-kata yang tersaji tanpa arti. Satu kata akan menambah makna tulisan Anda. Ini bukan sekedar menambah jumlah halaman.

• Menulis sebaiknya tidak dilakukan sambil mengedit. Itu dua tahap yang sebaiknya dilakukan terpisah.

• Bagilah tulisan dalam beberapa paragraf pendek. Idealnya, satu paragraf itu mengungkapkan satu ide pikiran. Pecah-pecahlah panjang dan struktur kalimat Anda sedemikian rupa agar tidak membosankan pembaca. Kalimat-kalimat yang runtut dan tidak berbelit-belit akan memberi kenyamanan pembaca tulisan Anda.

• Menulis dengan jelas. Ini juga bisa berarti menulis dengan spesifik, tidak mengawang atau melebar tanpa relevansi dengan topik yag dibicarakan. Pembaca akan kesal setengah mati saat terjebak dengan bacaan yang tidak jelas isinya. Ingatlah bahwa pembaca tidak selalu punya banyak waktu.

Sebuah novel yang tebal, kalau isinya menarik dan mengikat minat pembaca itu jelas berbeda dengan sebuah tulisan sependek satu halaman yang menuai cercaan pembaca karena isinya yang tidak jelas bagi pembacanya.

• Pentingnya bahasa yang komunikatif. Menulislah seakan sedang berbicara – alami dan tanpa berpretensi sok tahu dengan memakai bahasa ilmiah. Ini berlaku untuk banyak ragam tulisan, baik fiksi atau non-fiksi. Perkecualian bisa dipahami apabila Anda menulis buku pelajaran atau bahan studi (textbook). Hindarilah istilah yang hanya diketahui oleh kalangan tertentu (jargon).

• Menulis dengan pesan yang kuat. Ini bisa dilakukan bila Anda mengembangkan tulisan berdasarkan ide pokok yang jelas.

• Tunjukkan pembaca Anda tentang sesuatu, bukan menceritakannya. (Show, don’t tell). Dalam tulisan non-fiksi, ini bisa dilakukan dengan menulis hal-hal secara spesifik, tidak mengambang atau abstrak. Itu sebabnya kalimat pendek, tapi menyajikan fakta lebih disarankan daripada kalimat panjang berbelit dengan pokok ide yang kabur.

Dalam tulisan fiksi, ini dilakukan dengan memberi deskripsi tentang suatu keadaan atau karakter. Contoh: "Anak kecil itu pakainnya lusuh dan compang-camping. Melihatnya membuatku teringat wajah kakek berumur 80 tahun, kulit keriput, rambutnya tipis dan pudar warnanya."

• Menulis dengan jujur. Jadilah diri sendiri. Ini akan tercermin dari cara Anda mengungkapkan pokok pikiran yang Anda yakini kebenarannya. Kejujuran yang terungkap dalam kesederhanaan menulis akan menjadi kualitas tulisan itu sendiri. Maka Anda akan terhindar dari keinginan menulis berbunga-bunga dan mengada-ada dan tidak menambah arti atau kejelasan.

• Menulis dengan bersemangat namun penuh pengendalian diri. Ini sebuah paradoks.  Bersemangat menyampaikan apa yang Anda inginkan agar diketahui pembaca. Mengendalikan diri untuk menulis semua hal yang mungkin tidak berhubungan dengan pokok pikiran.  Ini paradoks dari menulis dengan semangat tak terkendali.

• Membaca dan membaca. Anda harus berbelanja dulu sebelum bisa menjual barang bagus. Ini hanya ungkapan bahwa agar bisa menulis bagus, kita perlu membaca buku-buku bermutu sebagai perluasan wawasan dan kemampuan apresiasi tentang tulisan yang bagus itu.

Demikian, selamat menulis dan semoga Anda menjadi penulis berhasil.

Tips Membuat Buku: 6 Tips Sukses Menulis Novel Remaja

Menulis novel untuk remaja merupakan tantangan sekaligus dapat berkontribusi untuk memberi manfaat.
Novel remaja juga bisa dikategorikan sebagai novel dewasa muda.
Seperti mengerjakan jenis novel  lain, menulis novel remaja harus dilakukan dengan penuh dedikasi.
Sangat penting menciptakan karakter yang berhubungan dengan remaja sekaligus membuat sebuah alur yang bisa membuat mereka tertarik.
Berikut tips sukses dalam menulis sebuah novel untuk remaja:

1. Kenali audiens

Anda menulis untuk orang-orang dengan rentang usia 13-18 tahun. Ini merupakan rentang usia yang lebar, sehingga perlu lebih disempitkan lagi.
Remaja yang berusia dekat dengan usia 13 akan memiliki ketertarikan atau minat yang berbeda dengan remaja yang berusia lebih tua.
Tetapkan target pembaca pada usia berapa sebelum mulai menulis. Kemudian, mulailah menulis cerita seolah sedang mambacakan cerita dan biarkan mengalir secara alami.
Hindari gaya penulisan seperti berpidato. Jika cerita memiliki tema atau pesan, biarkan keluar secara alami dalam cerita.

2. Memilih genre

Novel remaja bisa ditulis sebagai fiksi komedi, cerita misteri, thriller, roman, paranormal, atau fiksi ilmiah. Pilihlah salah satu atau dua genre untuk cerita dalam novel Anda.
Sebagian besar orang memilih buku dengan genre yang mereka suka. Seseorang yang suka cerita komedi dan kisah percintaan, tidak mungkin mau membaca novel fiksi ilmiah. 

3. Membangun karakter

Bangun karakter utama yang bisa diidentifikasi oleh remaja. Sebaiknya karakter tersebut berusia sama dengan remaja sendiri untuk menjaga minat mereka, daripada karakter yang terlalu tua atau terlalu muda.
Karakter yang Anda buat harus tumbuh secara emosional, dan mungkin akan berubah seiring berjalannya cerita karena mendapatkan pengalaman baru. Karakter harus memiliki tujuan dan motivasi untuk mencapai tujuan tersebut.
Buatlah konflik yang mencegah karakter mendapatkan tujuannya, sehingga Anda akan memiliki awal cerita yang baik dan menarik.

4. Membuat plot cerita

Buatlah garis besar novel Anda. Ide akan memudar, apalagi bila menunggu terlalu lama untuk munculnya ide lain.  Apa yang pernah Anda pikirkan begitu bagus bisa menghilang dalam sekejap jika garis besar novel tidak segera dibuat.
Biasakan untuk membawa laptop atau buku catatan setiap saat. Segera tulis ide-ide yang baru datang.

5. Banyak membaca

Anda tidak dapat menulis dalam ruang hampa. Bacalah novel remaja dan dewasa muda sebanyak mungkin. Pergilah ke toko buku terdekat untuk melihat jenis novel remaja apa yang dijual.
Dengan membaca novel remaja populer, Anda akan mendapatkan gagasan tentang bagaimana menulisnya.

6. Bergabung di kelompok penulis

Anda bisa bergabung dengan kelompok penulis, sehingga penulis lain dapat memberikan umpan balik pada novel Anda dan mungkin akan menangkap inkonsistensi dalam cerita, kesalahan mengetik, atau kesalahan tata bahasa.
Kelompok ini akan menjadi tempat belajar untuk terus memperbaiki karya-karya berikutnya.

Cara Gampang Menulis Novel :


Dalam kinerja penulisan, baik di Indonesia maupun di luar, ternyata lebih banyak persamaannya. Yang paling sering membedakan adalah budaya penulisan dan industri kreatif di luar lebih mendukung para pekerja kreatif; dibandingkan dengan kondisi di Indonesia. Berikut ini tata cara penulisan novel yang diberikan (note: sudah dipersingkat dan diambil intisarinya agar mudah diposting di facebook).
1. Anda perlu memutuskan mengapa anda ingin menulis novel fiksi.
2. Mengadopsi sikap profesional, anda harus tahu dari awal, di mana segmentasi pasar buku tersebut.
3. Dapatkan ide yang brilian. Mungkin dipikir mendapat ide sulit, tapi para profesional tahu mereka punya segudang ide dan tak cukup waktu untuk menuliskannya.
4. Tiap penulis punya cara tersendiri untuk menghasilkan tulisan terbaik, ikuti saja gaya penulisan anda. Yang penting novel harus mencakup tema, karakter, point of view, setting, dan plot.
5. Rumus sederhana novel dapat dibuat seperti :
Tema – mengapa
Karakter – siapa
Point of view – siapa
Setting – kapan dan di mana
Plot – apa
Kadang-kadang ditambahkan bentuk solusinya dengan bagaimana.
6. Membagi dalam beberapa bab.
7. Menulis draft pertama sesegera mungkin sampai selesai.
8. Revisi deskripsi; melengkapi yang kurang, mengurangi yang berlebihan.
9. Revisi dialog; sebagian besar kekuatan novel dari dialognya. Jadi, dialog harus diperiksa dengan cermat.
10. Menulis surat pengantar untuk “menjual” naskah ke agen atau penerbit.
Tips dari Mbak Ari Kinoyosan

Konsep LAPS Dalam Mencapai Titik Sukses Dalam Menulis

Kalau saya ingat-ingat masa lalu, awal mula menekuni dunia tulis-menulis, sulit sekali untuk menemukan cara terbaik untuk membuat sebuah karya tulis yang bagus, menarik dan enak dibaca.
Berbulan-bulan saya berada dalam tekanan mencari cara dan teknik menulis yang cocok untuk saya. Saya mengalami proses pergualatan yang cukup rumit dan pelik.
Belajar banyak ragam teknik. Baca buku ini-itu. Bertandang ke pustaka dan toko buku. Belanja banyak buku panduan menulis yang baik dan benar. Saya mengalami proses panjang, melalui banyak rintangan, belajar dari banyak hal.
Sampai akhirnya saya berhasil menemukan cara dan teknik menulis saya sendiri.
Saya akhirnya menemukan keselarasan antara apa yang saya pikir dan apa yang saya tulis. Saya sampai pada titik: menulis mengalir… Dan ketika masa itu datang, saya merasakan luapan senang tak terkira, haru tak terhingga. Sebuah usaha keras yang tak sia-sia.

Saya tolehkan penglihatan ke belakang, ternyata telah banyak jejak yang saya tinggalkan. Banyak karya yang telah saya tulis.
Suatu pengalaman berharga yang tak akan saya lupakan sampai kapanpun. Pengalaman itu mengajarkan saya akan arti: kerja keras meraih cita dan kesabaran tinggi dalam menempuhi jalannya.

Mari saya beri sedikit jabaran akan tahapan yang telah saya lalui itu.
Waktu pertama terjun ke dunia penulisan, saya tak punya secuilpun pengetahuan tentang cara menulis. Saya tidak tahu cara membuat kalimat yang baik; tidak tahu cara menciptakan paragraf yang benar; apalagi harus membuat bab, sulitnya minta ampun. Hanya tanda tanya besar yang tertempel besar di kepala saya.
Lalu, apa yang saya lakukan kemudian?
Saya bergegas keluar dari zona nyaman saya. Saya loncat dari kasur; bergegas keluar rumah; cepat-cepat bertandang ke pustaka; berburu buku sastra; membaca dengan rakus. Semua saya tujukan untuk satu hal: Membunuh kebodohan.

Pada tahapan ini, saya tengah memprakekkan satu huruf awal dari LAPS, yaitu huruf L, Learn yang berarti belajar.

Setelah belajar sebanyak mungkin tentang cara menghasilkan karya tulis yang baik. Saya segera praktekkan pengetahuan saya. Kalau mentok, bertanya sama senior. Kalau mentok lagi, cari panduan di internet. Kalau mentok lagi, saya ikut pelatihan menulis. Saya buka mata dan kepala, tanya sana-sini kepada orang yang saya anggap layak untuk ditanya.
Hasilnya…. saya berhasil menelorkan beberapa cerpen. Walaupun tak jelas bercerita tentang apa dan tentu tidak pernah diterbitkan.

Pada tahapan ini saya tengah melangkah maju, saya tengah menerapkan kata kedua dari LAPS, yaitu A, Action yang Berarti praktek.

Setelah belajar dan praktek, ternyata banyak informasi yang saya dapatkan itu sempat membuat saya bingung menerapkannya. Banyaknya tips dan panduan ini-itu membuat saya galau harus melangkah kemana dan ikut jalan siapa.

Syukurnya waktu itu, saya mengerti betapa pentingnya menghargai proses dalam menguasai sebuah keahlian. Untuk menjadi ahli, saya harus mau mengalami tahap demi tahapnya. Saya harus rela menjalani hari-harinya dengan tekun.
Saya sadar seratus persen, bahwa belajar dan praktek tahap demi tahap itu penting. Saya yakin demikian karena saya telah mengalami hal serupa dalam belajar di sekolah, dulu. Untuk menguasai satu mata pelajaran, saya harus rela menempuhi tahap-tahapannya dengan tekun dan sungguh-sungguh.
Pengalaman itu saya terapkan dalam dunia penulisan yang sedang saya geluti. Saya berupaya menenangkan diri dan berusaha bangkit lagi walaupun sering jatuh-bangun. Saya tetap terus menulis. Saya yakin betul bahwa orang akan mendapatkan “ujian” sesuai tingkatan pelajaran yang sudah diterimanya.

Pada tahapan ini, saya sebenarnya tengah menerapkan kata ketiga dari LAPS, yaitu P, Persistence yang berarti tekun terus-menerus.

Saya ambil tindakan dengan serius. Saya mengkondisikan diri untuk fokus. Saya rilekskan jiwa dan raga untuk menulis terus dan terus. Ketika berjuta halangan merintang, saya berupaya rileks. Istirahat tidur sejenak untuk tenangkan gejolak agar kemudian berusaha action lagi. Saya tidak pernah menyerah (Baca artikel terkait disini).

Sampai pada akhirnya aksi terarah yang telah saya lakukan terus-menerus itu mulai mendatangkan hasil. Sedikit demi sedikit saya mampu menulis dengan lancar. Dan bulan-demi bulan berlalu sampai tahunpun berganti… istilah “mengalir”-pun dengan senang hati mampir dan merapat kedalam diri. Alhamdulillah.

Dan setelah masa itu tiba, segalanya menjadi serba asyik, segalanya berubah menyenangkan. Usaha yang sungguh-sungguh tadi akhirnya berbuah hasil yang manis. Saya sudah mulai bisa menulis mengalir, lancar. Apa yang ada dibenak langsung bisa saya tuliskan di kertas atau saya ketik di komputer. Dan dalam beberapa bulan setelah mengalami aliran deras itu… akhirnya saya bisa menyelesaikan beberapa karya dan menerbitkannya.
Beberapa pengalaman dan karya itu saya tuangkan dalam situs saya: Cara Menulis Buku dot
com
. (Silakan berkunjung, ya…)

Dan pada tahapan inilah saya telah menggenapkan keempat kata dari LAPS, yaitu S,  Succes yang berarti berhasil.

Dan harapan saya begitu juga kepada anda. Sebab kita sebenarnya sama, sama-sama memiliki potensi untuk bisa menulis dengan baik dan benar. Dengan mengikuti LAPS, mudah-mudahan jalannya menjadi semakin terang.
Mulailah dengan belajar, lalu praktekkan dengan sabar dan tekun, dan ketika anda mempu menjalaninya sampai pada titik “mengalir”, anda sebenarnya tinggal satu langkah untuk mencapai sukses.

Ya, LAPS adalah sebuah konsep yang akan mengajarkan anda arti perjuangan sesungguhnya. LAPS adalah konsep yang akan membuat anda mau belajar. LAPS adalah konsep yang akan membuat anda segera mempraktekkan apa yang anda pelajari. LAPS juga akan mengajari anda tetap tekun bertahan dalam aksi.
LAPS adalah konsep yang akan menunjuki anda jalan sukses. Gunakanlah ia sebagai panduan anda dalam belajar dan berlatih menguasai keterampilan menulis sehingga anda dapat bersenang hati karena pada akhirnya anda juga dapat melihat karya tulis anda diterbitkan, seperti saya. Juga seperti penulis lainnya. Mau?

Senin, 22 September 2014

Macam-Macam Metode Kritik Sastra

BAB I
PENDAHULUAN
  A.        Latar Belakang
Dalam dunia akademik, istilah kritik sering sekali bersandingan dengan seni baik itu seni sastra, seni rupa, seni pertunjukan dan seni film. Kritik sastra khususnya berfungsi sebagai penilai atau judgement dalam menentukan nilai (baik, cukup, kurang) sebuah karya sastra. Kritik sastra juga memperbanyak pengetahuan dan pemahaman publik terhadap karya sastra.
Bagi pembaca, kritik sastra berfungsi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
                     1.         Membantu pembaca yang kesulitan memahami karya sastra.
                     2.         Membantu pembaca memilih yang terbaik dari sejumlah alternatif bacaan.
                     3.         Membantu pembaca menilai sebuah karya sastra.
Kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial sangat dibutuhkan untuk memahami sebuah karya sastra. Dengan kedua hal itu, kita dapat menyadari bahwa hidup itu sangatlah kompleks sehingga kita semakin menghargai terhadap perbedaan.
Dengan demikian, kritik sastra sangat diperlukan untuk membantu perkembangan sastra itu sendiri. Namun, dalam dunia sastra terdapat banyak sekali karya yang berbeda jenis ataupun bentuknya, seperti puisi, sajak, cerpen, novel, drama, dan yang lain sebagainya membutuhkan media kritik yang berbeda-beda. Tidak hanya di setiap jenis atau bentuk karya sastra, dalam satu jenis karya sastra pun diperlukan beberapa metode kritik. Ini dimaksudkan untuk mengetahui secara benar nilai sastra tersebut.
Di dalam makalah ini, penulis akan memaparkan secara ringkas tentang macam-macam metode kritk sastra. Seluruh metode ini sangat bermanfaat bagi perkembangan sastra itu sendiri, untuk mengetahui mutu dan nilai sastra, dan untuk mendorong semangat emosional sastrawan, dalam hal ini pembuat karya sastra untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
   B.        Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini dimaksudkan sebagai salah satu interpretasi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab dalam menerima mata kuliah Naqd Adab II (Kritik Sastra). Selain itu, penjelasan ringkas tentang macam-macam metode kritik sastra ini berusaha memberikan dorongan kepada peminat dan penikmat sastra untuk mengetahui sebebarapa banyak pendekatan yang dilakukan kritik untuk meningkatkan nilai sebuah karya sastra.
Untuk mengetahui nilai sebuah karya sastra dan pengakuan masyarakat peminat sastra terhadap karya sastra itu, sangatlah diperlukan bebarapa metode atau pendekatan kritik. Dalam karya sastra, sebagai contoh puisi, yang memiliki bahasa fiksi yang sangat kuat sehingga tidak cukup dimengerti dengan pemikiran logika yang sederhana. Dibutuhkan daya imajinasi atau daya khayal untuk menembus bahasa yang disampaikan para pujangga dan atau penyair dan akhirnya dapat menyentuh makna yang sesungguhnya meskipun makna itu hanya bersifat subjektif.


BAB II
MACAM-MACAM METODE KRITIK SASTRA

Sebagaimana uraian pada bab pertama, pakar kritik sastra membagi kritik sastara menjadi lima metode pendekatan, dan metode pendekatan itu didasari oleh subjektivitas kritikus sastra (minat, latar belakang, dan kepakaran), adapun pendekatan kritik sastra yang lima itu yaitu, metode kritik sastra formalis, metode kritik respon pembaca, metode kritik feminis, metode kritik sosiologis, dan mentode kritik psikoanalisis.
        A.        Metode Pendekatan Kritik Sastra Formalis
Formalisme, atau yang oleh tokoh utamanya dinamakan “metode formal” (Formal’ njy metod) adalah aliran kritik sastra yang timbul di Rusia sebagai reaksi terhadap aliran positifisme abad ke-19 khususnya yang berhubungan erat dengan puisi moderen Rusia  yang beraliran futurisme.
Secara definitif kritik sastra Formalisme adala aliran kritik sastra yang lebih mementingkan pola-pola bunyi dan bentuk formal kata atau dengan kata lain, karya sebagai struktur telah menjadi sasaran ilmu sastra. Sesuatu yang menarik dari hasil penelitian mereka adalah perhatian terhadap apa yang dianggap khas dalam sebuah karya sastra, yang mereka sebut literariness, dan usaha membebaskan ilmu sastra dari kekangan ilmu lain, misalnya psikologi, sejarah dan telaah kebudayaan.
Gerakan formalisme ini juga dikembangkan dalam metode penilitan bahasa yang dikemukakan oleh Saussure. Para formalis menampilkan percobaan sistematis untuk meletakkan studi sastra secara khusus. Bahasa puisi (tertulis) merupakan objek utama dari pendekatan kritik sastra formalis. Puisi dijadikan sebagai bentuk bahasa yang khas melalui penyimpangan dan distorsi bahasa sehari-hari (defamiliarisasi).
Gerakan formalis, memang tidak dapat disangkal, secara tidak langsung telah menorehkan garis demarkasi terhadap bahasa prosa yang sebenarnya juga termasuk dalam studi sastra. Bagi para Formalis, prosa menjadi the other sehingga pengertian mengenai fiksi yang sesungguhnya terpusat dalam istilah defamiliarisasi atas bahasa sehari-hari. Hal demikian dapat dipahami karena sejak timbulnya pemberontakan kaum Bolsevik di Rusia, bahasa yang terdapat dalam prosa menjadi stimulus dan kendaraan propaganda yang paling efektif untuk membuat massa bergerak sesuai kebijakan yang telah ditentukan. Bagi para Formalis, bahasa demikian jelas menjauhkan orang dari imajinasi dan penafsiran yang terus terbuka.
Dari sejarah perkembangan bahasa tulis, keberadaan bahasa fiksi (yang tertulis) sudah teruji. Inilah yang menjadi salah satu pangkal pemikiran para poststrukturalis seperti Barthes atau Derrida untuk memahami bahasa tulis sebagai sebuah teks yang berjejak bukan hanya dari sisi kontinuitasnya dengan beberapa momen, tetapi juga bahkan dari sisi diskontinuitasnya. Hal ini berarti bahwa bahasa tulis pun tidak selalu merepresentasikan sebuah fakta yang juga terbentuk dalam bahasa sehari-hari berdasarkan konvensi atau kebiasaan.
         B.        Metode Pendekatan Kritik Sastra Respon Pembaca
Metode pendekatan ini dipusatkan kepada respon dan timbal balik dari pembaca, dalam hal ini peminat dan penikmat karya sastra. Dilihat dari karakter pembaca merespon sebuah karya sastra, maka mereka dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pembaca gelisah dan pembaca pasrah.
  1. Pembaca Gelisah
Pembaca gelisah adalah publik pembaca sebagai penikmat karya sastra apa adanya dan tak mau ambil pusing tentang sastra. Mereka pasrah dininabobokan pengarang, sang diktator. Yang disebut terakhir adalah penikmat sekaligus pemikir serius. Fungsinya mulia, yakni membisiki pekarya sastra agar karyanya lebih berbobot sehingga lebih memukau pembaca. Kritik sastra adalah studi, diskusi, evaluasi, dan interpretasi atas karya sastra. Kritik sastra lantang bicara, sedangkan puisi, cerpen, dan novel seperti halnya arca diam membisu. Kritik sastra mengartikulasikan kebisuan ini.
Bagi peminat sastra, kritik sastra membantu mereka membangun interpretasi sendiri terhadap karya dengan bertambahnya sudut pandang. Agar memiliki satu interpretasi yang mantap, mereka memerlukan berbagai interpretasi. Sebuah karya mungkin dikritik berkali-kali. Beberapa kritik mungkin lebih mencerdaskan dari kritik lainnya. Maka lahirlah kritik atas kritik. Lagi-lagi di sini bermain kuasa subjektivitas. Subjektivitas pembaca menentukan penilaian atas sebuah kritik. Kritik itu sendiri refleksi subjektivitas kritikus terhadap karya. Dan karya yang dikritik pun cerminan subjektivitas penulisnya.
  1. Pembaca Pasrah
Membangun keinginan seseoroang agar tertarik pada sastra adalah panggilan jiwa untuk membaca sebagai pemuas dahaga psikologis. Artinya, pengajaran sastra di sekolah mesti berbeda dari perkuliahan sastra di universitas. Tidaklah tepat siswa ditakut-takuti oleh monster berupa teori-teori dan istilah-istilah teknis sastra yang dihafal dan diuji benar-salah. Pengajaran sastra yang berpihak pada estetika (bukannya efferent) adalah medium untuk menanamkan demokrasi lewat interpretasi liar dan apresiasi jujur.
Sastra berhubungan dengan pengarang, karya sastra, dan pembaca. Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan karena masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Tanpa pengarang tidak akan ada karya sastra, dan tanpa pembaca karya sastra tidak ada artinya. Pembaca dalam memahami dan memaknai suatu karya sastra akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan pembaca yang berbeda. Segers (dalam Pradopo, 1995:208) mengatakan cakrawala harapan pembaca ditentukan oleh tiga kriteria, yaitu (1) norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca, (2) pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya, dan (3) pertentangan antara fiksi dan kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk memahami, baik dalam horizon sempit dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon luas dari pengetahuannya tentang kehidupan
Pembaca  sebagai pemberi makna terhadap suatu karya sastra dapat dibagi atas beberapa tipe, yaitu the real reader (pembaca yang sebenarnya). Pembaca jenis ini dapat diketahui melalui reaksi-reaksi yang terdokumentasi. Tipe kedua disebut hypothetical reader (pembaca hipotesis). Pembaca ini berada di atas semua kemungkinan aktualisasi teks yang mungkin telah diperhitungkan. Pembaca tipe ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu contemporary reader (pembaca kontemporer atau pembaca masa kini) dan ideal reader (pembaca idial).
   1.         The Real Rreader  (Pembaca yang Sebenarnya)
Pembaca tipe ini muncul dalam menganalisis pengkajian sejarah tanggapan-tanggapan pembaca, yakni ketika perhatian studi sastra dipusatkan pada cara karya sastra diterima oleh masyarakat yang membaca secara khusus. Penilaian-penilainan apapun mengenai karya sastra juga akan mencerminkan berbagai sikap dan norma pembaca sehingga karya sastra dianggap cermin kode kultural yang mengkondisikan penilainan-penilaian tersebut.
Rekonstruksi terhadap pembaca yang sebenarnya ini tentu saja tergantung pada kelangsungan (hidup) dokumen-dokumen masa kini. Sebagai konsekwensinya, rekonstruksi tersebut sering sangat tergantung pada karya itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah apakah suatu rekonstruksi berkaitan dengan pembaca sebenarnya pada masa itu atau secara sederhana mengedepankan peran pembaca dengan berasumsi apa yang diharapkan pengarang.
   2.         Hypothetical Reader (Pembaca Hipotesis)
                      a.         Contemporary Reader (Pembaca Kontemporer)
Pembaca kontemporer memiliki tiga tipe, yaitu  ril, historis, dan hipotesis. Yang ril dan hipotesis tergambar dari keberadaan dokumen-dokumen, sedangkan yang hipotesis dari pengetahuan sosial, historis suatu waktu, dan peran pembaca yang tersimpan dalam teks.
                     b.         Ideal Reader (Pembaca Idial)
Sulit menunjukkan secara tepat dari dan di mana pembaca idial tergambar. Walaupun banyak yang dapat dikatakan untuk mengklaim bahwa pembaca idial cenderung muncul dari otak filolog atau pengkritik sendiri. Meskipun penilaian pengkritik berhadapan dengannya, ia tidak lebih dari seorang pembaca terpelajar.
Seorang pembaca idial harus memiliki sebuah kode yang identik dengan kode pengarang. Para pengarang bagaimanapun secara umum mengkodekan kembali kode-kode umum (yang berlaku) di dalam karya sastra mereka dan dengan demikian, pembaca idial akan dapat memperhatikan berdasarkan proses tersebut. Jika hal ini terjadi, komunikasi akan menjadi sangat berlebihan karena seseorang hanya mengkomunikasikan yang belum dibagi oleh pengirim dan penerima.
Pikiran bahwa pengarang sendiri menjadi pembaca idialnya sendiri seringkali diruntuhkan oleh pernyataan-pernyataan para penulis yang mereka buat atas karya-karya mereka sendiri. Secara umum, sebagai pembaca, mereka sangat sulit membuat pernyatan apa pun tentang dampak penggunaan teks-teks mereka sendiri. Mereka lebih suka berbicara dalam bahasa petunjuk tentang maksud-maksud mereka, strategi-strategi mereka, konstruksi-konstruksi mereka, disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang juga akan menjadi valid bagi masyarakat yang mereka arahkan.
Dalam perkembangan sekarang ini kritik sastra membagi tipe-tipe pembaca menjadi empat, yakni (1) superreader (pembaca pakar); (2) informed reader (pembaca serba tahu); (3) intended reader (pembaca harapan); (4) Implied Reader (pembaca terimplikasi). Setiap tipe pembaca membawa  terminologi khusus.
                     1.         Superreader (Pembaca Pakar)
Tipe pembaca ini selalu muncul bersama-sama isyarat dalam teks dan dengan demikian terbentuk melalui reaksi-reaksi umum mereka atas keberadaan satu fakta stilistik. Superreader mengobjektivasikan gaya atau fakta stilistik sebagai sebuah unsur komunikasi tambahan terhadap unsur utama bahasa. Pembaca ini memberikan bukti bahwa fakta stilistik berdiri di luar konteks sehingga mengarah kekepadatan dalam pesan yang terkodekan yang diterangkan oleh kontras intertekstual yang ditunjukkan oleh superreader.
                     2.         Informed Reader (Pembaca Serba Tahu)
Informed reader adalah (a) pembicara yang berkompeten terhadap bahasa di luar teks; (b) seseorang yang memiliki pengetahuan yang matang yang dibawa pendengar yang bertugas memahaminya; (c) seseorang yang memiliki kompetensi kesastraan.
                     3.          Intended Reader (Pembaca Harapan)
Pembaca tipe ini merekonstruksikan pikiran pembaca yang ada dalam pikiran pengarang. Pembaca tipe ini bersifat fiktif. Dengan ciri fiktif ini memungkinkannya merekonstruksikan masyarakat yang ingin dituju oleh pengarang. Pembaca berusaha menandai posisi dan sikap tertentu dalam teks, tetapi belum identik dengan peran pembaca.
                     4.         Implied Reader (Pembaca Terimplikasi)
Pembaca tipe ini memiliki konsep yang benar-benar tumbuh dari srtuktur teks dan merupakan sebuah konstruksi serta tidak dapat diidentifikasi dengan pembaca nyata. Pembaca merupakan suatu struktur tekstual yang mengantisipasi kehadiran seorang penerima tanpa perlu menentukan siapa dia. Pembaca berusaha memahami teks dari struktur-struktur teks yang ada. Dengan demikian, tidak menjadi masalah siapa pembaca itu, tetapi yang jelas pembaca tipe ini diberi tawaran sebuah peran utama untuk dimainkan, yakni peran pembaca sebagai sebuah struktur tekstual dan peran pembaca sebagai act (tindakan/aturan) yang terstruktur.


        C.        Metode Pendekatan Kritik Sastra Feminis
Abad 20, seperti pernah dinyatakan Noami Wolf, seorang feminis dari Amerika, sebagai era baru bagi perempuan, atau ia menyebutnya era gegar gender, era kebangkitan perempuan. Gaung kebangkitan itu memang terus berkembang hingga sekarang. Di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tsb. di berbagai bidang. Termasuk di bidang sastra.
Kritik sastra feminis secara teknis menerapkan berbagai pendekatan yang ada dalam kritik sastra, namun ia melakukan reinterpretasi global terhadap semua pendekatan itu. Kritik yang mula-mula berkembang di Prancis (Eropa), Amerika, dan Australia ini merupakan sebuah pendirian yang revolusioner yang memasukkan pandangan dan kesadaran feminisme (pandangan yang mempertanyakan dan menggugat ketidakadilan yang (terutama) dialami perempuan yang diakibatkan sistem patriarkhi) di dalam kajian-kajian kesusastraan.
Dengan kritik itu diharapkan penyusunan sejarah, penilaian terhadap teks-teks yang ditulis perempuan menjadi lebih adil dan proporsional. Oleh karena itu, seperti dijelaskan Djajanegara (2000), terdapat dua fokus di dalam kritik ini. Fokus pertama adalah pengkajian ulang sejarah kesusastraan, termasuk mengkaji lagi kanon-kanon yang sudah lama diterima dan dipelajari dari generasi ke generasi dengan tinjauan feminis dan menggali kembali karya-karya dan penulis-penulis dari kalangan perempuan yang ter(di)pendam selama ini.
Fokus kedua, mengkaji kembali teori-teori dan pendekatan tentang sastra dan karya sastra yang ada selama ini dan tentang watak serta pengalaman manusia yang ditulis dan dijelaskan dalam sastra. Selama ini para feminis melihat ada pengabaian terhadap pengalaman-pengalaman perempuan. Di sini, kritik sastra feminis menyediakan konteks bagi penulis perempuan yang mendukung mereka agar mampu mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pikiran yang selama ini diredam.
Akan tetapi, perlu dicatat, seperti gerakan/ideologi feminis itu sendiri yang tidak monolitik (terdiri atas berbagai aliran), kritik sastra feminis yang memang tumbuh dari gerakan ini, juga tidak monolitik. Feminisme terdiri atas aliran-aliran liberalis, marxis, sosialis, eksistensialis, psikoanalitik, radikal, postmodern, dll. yang masing-masing memiliki perbedaan pandangan/penekanan dan tak jarang bertentangan. Ada feminisme yang sangat maskulin, ada yang anti-maskulin, ada pula yang ingin menjadi partner dengan maskulinitas.
Hal ini berpengaruh pula di dalam cara memandang, menilai, dan menetapkan kriteria-kriteria kesusastraan yang sesuai dengan pandangan feminisme. Tokoh-tokoh seperti Helena Cixous, Virginia Wolf, Kate Millet, dll. yang merupakan kritikus sastra feminis berasal dari aliran yang berbeda. Cixous misalnya, penganut feminisme postmodern, Wolf adalah seorang feminis marxis, dan Millet seorang feminis radikal. Keberagaman itu dapat saling mengisi, tapi dapat bertentangan dalam pengejawantahannya dalam kritik sastra feminis.
Berdasarkan keberagaman ini, dalam kritik sastra feminis ditemukan kritik gynocritics, kritik sastra feminis ideologis, marxis, psikoanalitik, dll. Gynocritics melakukan kajian terhadap sejarah karya sastra perempuan, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan wanita yang lebih menekanan perbedaannya dengan tulisan laki-laki. kritik sastra feminis Ideologis memusatkan perhatian pada cara menafsirkan teks yang melibatkan pembaca perempuan. Yang dikaji adalah citra/stereotip perempuan dan meneliti kesalahpahaman mengenai perempuan. kritik sastra feminis sosialis/marxis melihat tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastra dari sudut kelas-kelas masyarakat, dan kritik sastra feminis psikoanalitik menolak teori Sigmund Freud dalam pengkajian karya sastra. Masih banyak ragam lainnya, seperti kritik sastra feminis lesbian, dan ras (etnik).
Feminisme dan kritik sastra feminis membawa angin segar dalam perkembangan kesusastraan. Di berbagai wilayah, berkat usaha para kritikus feminis, para perempuan dan karyanya mulai dipertimbangkan dengan adil. Banyak karya perempuan yang awalnya oleh para kritikus tradisional dianggap bukan kanon, setelah melalui pengkajian dari sudut feminisme diterima masyarakat sebagai kanon. Karya Mary Ann Cross (George Eliot) di Inggris adalah salah satu contohnya.
Angin segar itu misalnya terasa dari kajian-kajian gynocritics dari berberapa kritikus sastra, antara lain oleh Korrie Layun Rampan berupa penyusunan antologi dan pengkajian karya-karya khusus perempuan yang sangat membantu penyusunan ulang sejarah kesusastraan dalam hubungannya dengan keberadaan perempuan, peningkatan pemberian kesempatan terhadap perempuan dalam kegiatan-kegiatan sastra (meski belum imbang antara laki-laki dan perempuan), dan kritik yang lebih objektif dalam melihat keunggulan karya perempuan sehingga saat ini karya perempuan diperhitungkan dan menempati kanon-kanon sastra.
Di sini pun perlu dipertanyakan mengapa kritik ini sangat jarang dipergunakan untuk menganalisis karya laki-laki. Padahal menurut sejarahnya, kritik ini juga diterapkan pada karya laki-laki untuk melihat bagaimana laki-laki mencitrakan perempuan dalam cerita-cerita rekaannya. Di Indonesia, hingga saat ini, belum ada penelitian mendalam terhadap penggambaran citra-citra perempuan dalam karya laki-laki. Yang ada selama ini baru sebatas dugaan. Kajian mendalam ke arah ini tampaknya akan bermanfaat untuk membantu penyadaran masyarakat terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Semoga kritik ini tidak hanya digunakan sebagai mode, tapi sebagai sebuah kesadaran.
        D.        Metode Pendekatan Kritik Sastra Sosiologis
Pendekatan sosiologis terhadap karya sastra bertolak dari gagasan bahwa sastra merupakan  pencerminan kehidupan masarakat (sosial). Karya sastra mendapat pengaruh dari masyarakat dan memberi pengaruh terhadap masyarakat.
a.       Konsep dan kriteria
Seperti pendekatan kritik sastra yang lainnya, pendekatan sosiologis juga mempersoalkan hal-hal yang ada diluar tubuh karya sastra seperti latar belakang pengarang, pengaruh sastra terhadap masyarakat, respon pembaca, dan lain-lain. Adapun konsep dan kriteria pendekatan ini adalh senagai berikut:
1.           Dalam sejarah awal kemunculan pendekatan sosiologis memandang karya sastra sebagai cermin sejarah. Semakin banyak gejolak sosial dan dialektioka di tengah masyarakat,  sastra semakin meningkat sebagai alat perekam gejala sosial tersebut.
2.           Karya sastra merupakan medium palin epektif untuk menggerakam masyarakat dalam mewujudkan keinginan mereka. Pendekata sosiologis ini juga dinamakan realisme sosialis.
3.           Analisis sastra lebih luas tertuju pada pengarang yang mampu merekm kehidupan suatu jaman dalam karyanya.
4.           Pendekatan sosiologis juga bermanpaat untuk mengkaji latar belakang penulis, palaspah yang dianut, idiologi, pendidikan, dan visi pengarang. Pendekatan ini juga menganalisis masarakat yang digambarkan dalam karya sastra dan membandingkannya dengan masyarakat diluar karya sastra.
b.      Kekuatan dan Kelemahan
Pendekatan sosiologis memandang karya sastra sebagai produk budaya yang sangat diperlukan masyarakat. Sastra merupakam media komunikasi antara masyarakat. Kelemahan pendekatan ini antara lain : (1) Munculnya konsep sastra untuk masyarakat dan masyarakat untuk sastra. (2) Sering dijadikan sebagai alat untuk melakukan proters sosial (3) Pendekatan ini sukar dipahami apabila tidak didukung oleh ilmu sosiologi dan jiwa sosial.
         E.        Metode Pendekatan Pisikologis
   Pendekatan pisikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Manusia senantiasa memperhatikan prilaku yang beragam, sehingga bila kita ingin memahami manusia lebih dalam maka kita membutuhkan Pisikologi, lebih-lebih di zaman yang serba berkaitan dengan ilmu tehnologi yang canggih ini, manusia memiliki konflik kejiwaan yang yang bermula dari sikap tertentu yang akhirnya berpengaruh dalam kehidupannya.
Penjelajahan ke dalam batin atau kejiwaan untuk menetahui lebih dalam tentang seluk beluk manusia yang unik ini merupakan sesuatu yang merangsang. Banyak penulis yang berusaha mendalami masalah pisikologi seiring dengan itu banyak penelaah  atau peneliti sastra yang mencoba memahami karya sastra dengan bantuan pisikologi. Memang benar setiap permasalahan kehidupan manusia dapat dikembalikan kedalam teori-teori pisikologis.
Berangkat dari pemikiran semacam itu muncullah  pendekatan Pisikologis dalam telaah atau penelitian sastra. Para pakar pisikologis terkemuka seperti Jung, Adler, freud, dan Brill memberikan infirasi yang cukup banyak tentang pemecahan masalah  misrteri tingkah laku manusia melalui teori-teori pisikologi. Namun hanya Freud yang secara langsung berbicara tentang proses penciptaan seni sebagai akibat dari tekanan dan tinbunan masalah dibawah alam sadar yang kemudian disumlimasikan kedalam bentuk penciptaan karya seni pisikologi yang di bawa oleh Freud ini disebut pisikologianalisis yang bayank diterapkan dalam penelitian sastra lewat bpendekatan pisikologi.
                 a.         Konsepsi dan Kriteria Pisikoanalisis
Kritik psikoanalisis dilakukan berdasarkan psikologi yang ada dalam diri manusia. Dalam dirinya terdapat id, ego, dan super-ego yang menyebabkan manusia selalu berada dalam keadaan berperang dalam dirinya apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiganya. Akan tetapi ketiganya bekerjasama seimbang dan melahirkan watak yang wajar. Dalam metode pendekatan psikoanalisis kajian sastra yang diambil hanya bagian-bagian yang sesuai dengan teori psikoanalasis.
Berikut ini beberapa konsepsi dasar kriteria yang digunakan dalam metode pendekatan psikoanalisis:
                                 1.         Karya sastra merupakan produk dari jiwa dan pemikiran pengarang yang berada dalam setengah sadar atau subconcius setelah mendapat bentuk yang jelas secara sadar atau concious dalam bentuk penciptaan karya sastra.
                                 2.         Kualitas karya sastra ditentukan oleh bentuk proses penciptaan dari tingkat pertama, yaitu keadaan setengah sadar di bawah alam sadar kepada tingkat kedua, yaitu dibawah keadaan sadar.
                                 3.         Menurut metode psikoanalisis, karya yang berkualitas adalah karya sastra yang mampu menyajikan simbol, wawasan, kepercayaan, tradisi, moral, budaya dan lain-lain.
                                 4.         Karya sastra menurut metode psikoanalisis adalah karya sastra yang mampu menggambarkan kekalutan dan kekacauan batin manusia.
                                 5.         Kebebasan sastrawan atau pembuat karya sastra sangat dihargai. Dia memiliki kebebasan yang istimewa, yaitu berupaya mengkongkritkan gejolak batin yang ada dalam dirinya.
                b.         Metode atau Langkah
Freud mengatakan dalam teori psikoanalisisnya bahwa dalam mengarang, sastrawan diserang oleh penyakit jiwa yang disebut ‘neurosis’ bahkan sampai ‘psikosis’ seperti sakit mental. Berikut ini digambarkan metode atau langkah kerja pendekatan atau metode psikologis.
                                 1.         Metode psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra baik segi intrinsik maupun segi ekstrinsik. Namun metode ini lebih ditekankan pada segi intrinsik sesuai dengan penokohan atau perwatakan.
                                 2.         Segi ekstrinsik perlu dibahas yang menyangkut dengan permasalah jiwanya. Dengan memahami segi kejiwaan pengarang, akan sangat membantu dalam karakter cerita atau karya sastra yang ditulisnya.
                                 3.         Di samping menganalisis perwatakan dalam segi psikologis, mengurai tentang tema karya sastra itu sendiri juga perlu dilakukan.
                                 4.         Analisis dapat diteruskan kepada analisis kesan pembaca, karena karya sastra sangat berpengaruh dalam respon pembaca yang menimbulkan kesan pada pembaca dan berdampak didaktis bagi dirinya.
                 c.         Kekuatan dan Kelemahan Metode Psikoanalisis.
Melalui pendekatan psikologi, dapat menimbulkan kesan bahwa pendekatan ini menjurus pada pemanfaatan ilmu jiwa yang rumit, abstrak dan kompleks. Sungguh meskipun begitu, metode psikoanalisis ini memiliki kekuatan, yaitu:
                                 1.         Sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan.
                                 2.         Metode ini memberi timbal balik kepada penulis atau sastrawan tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya.
                                 3.         Sangat membantu dalam menganalisis karya sastra surcalis, abstrak, atau absurd dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya sastra semacam itu.
Metode ini juga memiliki kelemahan dalam menerapkannya dalam kritik sastra. Kelemahan tersebut dapat digarisbesarkan sebagai berikut:
                                 1.         Mengharuskan kritikus untuk mengetahui ilmu kejiwaan.
                                 2.         Banyak hal yang abstrak yang sukar dipecahkan tentang perilaku dan motif tindakan.
                                 3.         Sukar diketahui kaitan tindakan yang satu dengan yang lain, karena dalam cerita kadang tokoh itu ‘mati’.
                                 4.         Tidak mudah mengetahui apakah pengalaman yang menimpa tokoh itu merupakan pengalaman pengarang langsung atau bukan.
                                 5.         Metode ini lebih mudah jika seorang pengarang menulis jujur sesuai dengan penglaman hidup dan karakternya, karena jika pengarang tidak jujur dalam membuat karyanya, maka kajian tentang riwayat hidup pengarang pun tidak ada gunanya.
                                 6.         Sampai saat ini teori yang dikemukakan Freud belum dapat dibuktikan secara saintifik dan masih banyak hal yang bersifat metafor dan merupakan misteri.


BAB III
PENUTUP

        A.        Kesimpulan
Kritik sastra sangat bermanfaat dalam dunia sastra. Kritik sastra menjadi mediator komunikasi dan apresisasi antara pengarang dan pembaca. Dari semua itu, landasan yang diambil pun kemudian menjadi sebuah penentu, dimana dalam mencari nilai karya sastra haruslah ada satu alat yang secara menentu dan mendetail menguak semua unsur yang ada di dalam karya sastra dan unsur yang ada di luar karya sastra.
Para ahli kritik membagi beberapa metode atau pendekatan kritik sastra menjadi lima, yaitu pendekatan formalis, respon pembaca, feminis, sosiologis, dan psikoanalisis.
         B.        Saran
Demikianlah makalah ini diususn dengan kemampuan yang terbatas. Namun tak ada salahnya jika kita mempelajari teori pendekatan ini lebih mendalam dan melakukan uji coba terhadap karya sastra di sekeliling kita.


DAFTAR ISI

Atar Semi, M. Pror. Drs. 1990.  Metode Penelitian Sastra. Bandung: Penerbit ANGKASA Bandung.
Fokkema, D.W. dan Elrud Kunne. 1998. Teori Sastra Abad Ke-20. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustakan Utama.
Hardiyana, Andre. 1994. Kritk Sastra; Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Purtaka Utama.
Yusuf, Suhendra. Drs. MA. 1995. Leksikon Sastra. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju.