MENULIS KRITIK SASTRA
Pengertian Kritik Sastra
Menurut
Wellek (1978) Kritik sastra adalah studi karya sastra yang konkret
dengan penekanan pada penilaiannya. Flint dan Hibbard (1960) Kritik
sastra adalah keterangan, kebenaran analisis atau judgment
(penghakiman) atas suatu karya sastra. Abrams (1981) Kritik sastra
adalah suatu studi yang berkenaan dengan pembatasan, pengkelasan,
penganalisisan dan penilaian karya sastra. Hudson (1955) Kritik sastra
dalam artinya yang tajam adalah penghakiman terhadap karya sastra yang
dilakukan oleh seorang ahli atau yang memiliki kepandaian khusus untuk
memudahkan pemahaman karya sastra, memeriksa kebaikan dan cacat-cacatnya
dan menentukan pendapatnya tentang hal tersebut. Jassin (1945) Kritik
sastra adalah pertimbangan baik buruk suatu karya sastra, seta
penerangan dan penghakiman karya sastra. Pradopo (1994) Kritik sastra
adalah ilmu sastra untuk “menghakimi” karya sastra, untuk memberikan
penilaian dan memberikan keputusan bermutu atau tidak, suatu karya
sastra yang sedang dihadapi kritikus. Rachmat Djoko Pradopo Kritik
sastra adalah salah satu cabang studi karya sastra yang penting dalam
kaitannya dengan ilmu sastra dan penciptaan sastra. Hardjana (1981)
Kritik sastra adalah sebagai hasil usaha pembaca dalam mencari dan
menentukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran
sistemik: yang dinyatakan dalam bentuk tertulis.
Jadi,
kritik sastra merupakan telaah terhadap suatu karya sastra yang
bersifat menghakimi karya sastra orang lain, dengan cara menilai baik
dan buruknya suatu karya sastra, membandingkan, serta mencari kesalahan
karya sastra yang dihadapi, melalui pemahaman yang objektif.
Jenis-jenis Kritik Sastra
1. Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Bentuknya
Berdasarkan bentuknya, kritik sastra dibedakan menjadi kritik teoretik dan kritik praktik (Abrams,1981).
a. Kritik
teoretik adalah bidang kritik sastra yang berusaha menetapkan atas
dasar prinsip-prinsip umum, seperangkat istilah-istilah yang
tali-temali, perbedaan-perbedaan dan kategori-kategori untuk diterapkan
pada kriteria (standar atau norma-norma) yang dengan hal tersebut karya
sastra dan sastrawannya dinilai.
b. Kritik praktik mengacu pada praktik kritik yang telah diterapkan oleh para kritikus dalam mengkritik karya sastra.
2. Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Pelaksanaannya
Menurut
pelaksanaan (praktik) kritiknya, kritik sastra dibedakan menjadi kritik
judisial,kritik iduktif dan kritik inpresionistik (Abrams dan Hudson
via Pradopo, 1994).
a. Kritik
judusial adalah kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menilai
karya sastra atas dasar standar-standar umum tentang kehebatan atau
keluarbiasaan sastra yang telah ditetapkan sebelumnya.
b. Kritik
iduktif adalah kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian sastra
berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif.
c. Kritik
impresionistik adalah kritik sastra yang mengemukakan kesan-kesan
(impresi) kritikus terhadap karya sastra yang telah dibacanya.
3. Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Orientasinya Terhadap Kasya Sastra
Berdasarkan
orientasinya terhadap karya sastra, Abrams (1981) membedakan kritik
mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif, dan kritik objektif.
a. Kritik
mimetik adalah kritik yang berorentiasi atau memfokuskan perhatian pada
hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan.
b. Kritik
pragmatik adalah kritik yang berorientasi atau memfokuskan perhatian
kepada tanggapan pembaca terhadap karya sastra dan dampak atau pengharu
sastra pada pembaca.
c. Kritik
ekspresif adalah kritik sastra yang berorientasi atau memfokuskan
perhatian kepada pengarang sebaai pencipta karya sastra.
d. Kritik objektif adalah kritik yang berorentasi atau memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri.
4. Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Kritikus dan Ragam Penulisannya (Pradopo, 1994)
a. Kritik
sastra akademik atau ilmiah adalah kritik sastra yang ditulis oleh para
ahli sastra yang pada umumnya pada sarjana sastra dengan menggunakan
teori dan metode ilmiah.
Kritik Sastra Akademik :
Kritik
sastra Jurnalistik atau kritik sastrawan ditulis oleh para kritikus
sastrawan ataupun umum dengan tidak mempergunakan teori dan metode
ilmiah
Tujuan Kritik Sastra
1. Pertimbangan
atau penjelasan tentang karya sastra serta prinsip-prinsip terpenting
tentang karya tersebut kepada penikmat yang kurang dapat memahaminya.
2. Menerangkan seni imajinatif sehingga mampu memberikan jawaban terhadap hal-hal yang dipertanyakan pembaca.
3. Membuat aturan-aturan untuk para pengarang dan mengatur selera pembacanya.
4. Mengainterprestasikan suatu karya sastra terhadap pembaca yang tidak mampu memberikan apresiasi.
5. Memberi keputusan atau pertimbangan dengan ukuran penilaian yang telah ditetapkan.
6. Menemukan dan mendapatkan asas yang dapat menerangkan dasar-dasar seni yang baik.
Contoh Kritik Sastra
HIDUP DARI OMBAK
Dari
pembacaan sepintas lalu, jelas bahwa ada dua unsur yang sangat
menentukan pemahaman sajak “Ombak Itulah” yang pertama
adalah judulnya. Pemakaian kata “itu” menyarankan kita berurusan dengan
ombak yang sudah kita kenal, tetapi saran itu bertentangan dengan
kenyataan bahwa kata itu terdapat pula pada awal sajak sehingga
pemakaian anafora tidak mungkin dilakukan. Akibatnya kita terpaksa
meninggalkan otonomi sajak ini.
Hal
kedua yang menentukan interpretasi sajak ini adalah hubungan “aku-kau”
yang sangat menonjol. Hubungan keduanya sangat erat dari awal sampai
akhir, tetapi tidak dieksplisitkan. Dalam situasi semacam ini, saya
terpancing untuk meneliti semua sajak yang terkandunng dalam kumpulan
sajak tersebut. Saya mulai membaca kumpulan ”Tergantung Pada Kata” yang
memuat sajak “Ombak itulah”. Makin lama makin jelas bahwa dalam
kumpulan sajak itu soal makna dan nilai lambang kata ombak,hubungan
antara aku –kau sangat sering dijumpai. Dari 52 sajak dalam kumpulan
ini, ada 38 sajak (75%) menyebutkan secara eksplisit kau dan aku.
Golongan
sajak kedua menggunakan kau dan –mu yang mejunjuk pada Tuhan. Namun
ada kalanya ditulis dengan huruf besar, ada kalanya tidak, walaupun
menurut penafsiran saya kau dan -mu di sini juga menunjuk pada
Tuhan……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
(Dikutip dari A. Teeuw. 1980. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya, halaman 131-143)
Uraian Contoh
Berdasarkan
contoh kritik sastra diatas, dapat disimpulkan bahwa di dalam kumpulan
sajak ”Tergantung Pada Angin” ada sajak yang memuat sajak “Ombak
Itulah” dan makna yang terkandung di daslam sajak tersebut menyarankan
kita berurusan dengan ombak dalam pemakaian kata “itu”. Hal tersebut
bertebtangan dengan kenyataan karena kata itu terdapat pula pada awal
sajak sehimgga pemakaian anafora tidak mungkin dilakukan.
Dan
hubungan “aku-kau” di dalam sajak tersebut sering dijumpai dan sangat
berhubungan erat, namun tidak dieksplisitkan, yaitu dari 52 sajak ada 38
sajak yang menyebutkan secara eksplisit kata “aku-kau”. Serta adanya
penulisan kata Tuhan pada golongan sajak kedua yang ditulis dengan huruf
kecil (tuhan), seharunya ditulis dengan huruf besar (Tuhan).
Cara Menulis Kritik Sastra
1. Sebelum
memberi kritik, kritikus harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang
hal yang akan dikritik. Sebagai contoh, jika akan mengkritik suatu
cerpen, kritikus harus mempunyai pengetahuan luas tentang cerpen.
2. Sebelum
mengkritik, pelajari dengan cermat karya yang akan di kritik. Pahami
segala istilah yang terdapat dalam karya. Baca juga bahan rujukan karya
tersebut.
3. Setelah itu, buatlah catatan objektif tentang kelebihan dan kekurangan hal yang akan dikritik.
4. Sebelum kritik disampaikan, pikirkan kembali “bagaimanakah perasaan saya jika dikritik semacam ini?”
5. Saat
menyampaikan kritik, melalui tulisan atau lisan, perhatikan penggunaan
bahasa. Gunakan bahasa yang tidak menyerang orangdan tidak menyakitkan
hati. Beri penilaian yang jujur dan objektif, tetapi tetap santun.
Kritik harus memiliki alasan yang masuk akal atau logis.
Kritik
sastra memiliki peran sebagai jembatan penghubung antara karya sastra
dengan masyarakat penikmat sastra. Sumbangan pikiran dan analisis
pengkritik yang baik bisa menimbulkan minat yang menyala-nyala bagi
pembaca-pembaca lain untuk membaca karya tersebut.
Disampingitu,
kritik sastra dapat pula dijadikan alat pemandu bakat para
penulis-penulis yang telah berkarya. Bahkan untuk pengarang, kritikus
dapat menjadi propagandis yang baik bagi karya-karya mereka. Dalam
mengemban misinya, para kritikus dituntut suatu rasa tanggung jawab dan
kejujuran, terutama kejujuran dalam mengembangkan profesi dan kejujuran
terhadap hati nurani.
Oleh
karena itu, marilah kita menulis kritik sastra sebagai apresiasi kita
terhadap suatu karya orang lain. Sehingga karya sastra kedepannya lebih
berkembanh dan bernilai dalam meningkatkan kualitasnya.
Adapun manfaat menulis kritik:
1. Kritik sastra berguna bagi perkembangan sastra
Dalam
mengkritik, kritikus akan menunjukan hal yang bernilai/tidak bernilai
dari suatu karya sastra. Kritikus bisa jadi akan menunjukan
kebaruan-kebaruan dalam karya sastra, hal-hal apa saja yang belum
digarap oleh sastrawan. Dengan demikian sastrawan dapat belajar dari
kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memperluas
cakrawala kreativitas, corak, dan mutu karya sastranya. Jika
sastrawan-sastrawan dalam di negara tertentu mengahsilkan karya-karya
yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara
tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun
kuantitas.
Dengan
kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas
dan kreatifitas sastrawan, dan pada gilirannya akan meningkatkan
perkembangan sastra itu sendiri.
2. Kritik sastra berguna untuk penerangan bagi pembaca
Dalam
melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar,
menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya
sastra yang dikritik. Dengan demikian, pembaca awam akan mudah memahami
karya sastra yang dikritik oleh kritikus. Disisi lain, ketika masyarakat
sudah terbiasa dengan apresiasi sastra, maka daya apresiasi masyarakat
terhadap karya sastra akan semakin baik. Masyarakat dapat memilih karya
sastra yang bermutu tinggi (karya sastra yang berisi nilai-nilai
kehidupan, memperhalus budi, mempertajam pikiran, kemanusiaan, dan
kebenaran).
3. Kritik sastra berguna bagi ilmu sastra itu sendiri
Analisis
yang dilakukan kritikus dalam mengkritik tentulah didasarkan pada
referensi-referensi, teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula,
perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan
proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus
seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra yang baru
inilah yang justru akan semakin memperkembangkan ilmu sastra itu
sendiri.
4. Memberi sumbangan pendapat untuk menyusun sejarah sastra
Dalam
melakukan kritik, kritikus tentu akan menunjukan ciri-ciri sastra yang
dikritik secara struktural (ciri-ciri intrinsik). Tidak jarang pula
kritikus akan mencoba mengelompokan karya sastra yang dikritik ke dalam
karya sastra yang berciri sama. Kenyataan inilah yang dapat disimpulkan
bahwa kritik sastra sungguh membantu penyusunan sejarah sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Semi Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Sayuti, Suminto A. dan Wiyatmi. 2008. Kritik Sastra. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wellek Rene. 1978. Concep of Criticism.
Flint William, Hibbard Adaison. 1960. A Handbook to Literature.
Jassin H. B. 1945. Sastra Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay.
Pradopo. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar